PONTIANAK POST - Ketika mantan pasangan tidak menjalankan kewajiban memberi nafkah anak, respons yang diambil sering kali dipenuhi emosi.
Padahal, langkah yang lebih tenang justru dinilai lebih efektif untuk memastikan hak anak tetap terpenuhi.
Dahulukan Komunikasi
Konselor pernikahan Shofiy Yusro SPsi menyarankan agar penyelesaian selalu diawali dengan komunikasi yang baik.
Baca Juga: Perceraian Bukan Alasan Mengabaikan Kewajiban Nafkah Anak Menurut Konselor Pernikahan
"Komunikasikan dulu dengan jelas dan baik-baik, lalu simpan juga bukti komunikasinya. Misalnya, catatan, voice/video recordings, saksi,"
Menurutnya, dokumentasi komunikasi penting apabila persoalan harus berlanjut ke tahap berikutnya.
Gunakan Jalur Mediasi
Apabila komunikasi belum membuahkan hasil, Shofiy meminta agar konflik tidak langsung diperbesar.
Baca Juga: Masalah Keuangan Disebut Jadi Salah Satu Penyebab Konflik dan Perceraian Pasangan
Menurutnya masih ada sejumlah jalur yang lebih sehat, seperti melibatkan keluarga yang dihormati, mediator, konselor, maupun jalur hukum.
"Karena tujuan kita bukan memenangkan pertengkaran dengan mantan pasangan, melainkan hak anak terpenuhi tanpa menambah luka baru buat anak maupun orang tuanya," ungkap Shofiy.
Ia juga mengingatkan agar perjuangan memenuhi hak anak tidak berubah menjadi ajang saling menyalahkan.
Baca Juga: Psikolog: Nikah Muda Rentan Konflik dan Perceraian
"Ketika fokus bergeser pada siapa yang bersalah, kebutuhan anak justru berisiko terabaikan," jelasnya.
Shofiy menambahkan,
"Jangan sampai kemarahan itu ditumpahkan ke anak atau anak dijadikan senjata untuk membalas mantan pasangan. Kasihan anaknya, dia bukan pelaku tetapi malah kena imbas," pungkasnya, (*)
Editor : Chairunnisya