PONTIANAK POST - Kemudahan mengakses animasi melalui berbagai perangkat digital membuat anak semakin akrab dengan layar.
Karena itu, orang tua perlu memperhatikan durasi menonton agar tidak mengganggu perkembangan anak.
Kenali Tanda-Tandanya
Dilansir dari Jawapos, psikolog klinis Zarra Dwi Monica MPsi mengatakan risiko mulai muncul ketika anak terlalu sering menonton.
Baca Juga: Jangan Biarkan Anak Menonton Pasif, Bangun Interaksi Saat Menyaksikan Animasi
Salah satu dampaknya adalah kecenderungan meniru perilaku yang dilihat dari karakter dalam tayangan.
"Pendampingan orang dewasa menjadi penting agar anak memperoleh penjelasan ketika menemukan adegan yang kurang sesuai," jelasnya.
Menurutnya, screen time yang berlebihan juga dapat mengurangi waktu bermain, belajar, berinteraksi, hingga memengaruhi kualitas tidur anak.
Baca Juga: Tidak Semua Kartun Baik, Orang Tua Harus Selektif Memilih Tontonan Anak
"Yang patut diwaspadai bila anak mengalami perubahan sikap. Misalnya anak sulit berhenti menonton, tantrum ketika layar dimatikan, lebih memilih menonton daripada bermain, atau membutuhkan gawai setiap kali merasa bosan," ungkapnya.
Sesuaikan Screen Time dengan Usia
Zarra mengingatkan pengenalan layar perlu disesuaikan dengan usia anak. Anak di bawah 18 bulan sebaiknya tidak terpapar layar kecuali untuk kebutuhan tertentu seperti video call.
Baca Juga: Tips Aturan Aman Menggunakan Gawai untuk Anak dan Dewasa
Pada usia 18 hingga 24 bulan, penggunaan layar harus dilakukan dengan pendampingan.
Sementara itu, anak usia 2 hingga 5 tahun disarankan memiliki screen time maksimal sekitar satu jam per hari dengan konten berkualitas.
Untuk anak usia sekolah, perhatian tidak hanya tertuju pada lamanya menonton, tetapi juga apakah penggunaan layar mulai mengganggu tidur, aktivitas fisik, proses belajar, maupun hubungan sosial.
Baca Juga: Kursus Saat Liburan Bisa Jadi Cara Mengasah Minat dan Bakat Anak
Orang tua juga perlu mengetahui konten yang diakses serta mengajarkan waktu yang tepat menggunakan layar. (*)