Mengapa Remaja Rentan Terpengaruh Rayuan Lawan Jenis? Ini Penjelasan Psikolog

Chairunnisya • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 09:21 WIB
Ilustrasi remaja berbincang-bincang dengan ibunya. (AI)
Ilustrasi remaja berbincang-bincang dengan ibunya. (AI)

PONTIANAK POST - Masa remaja merupakan periode ketika anak mulai mencari jati diri sekaligus membutuhkan penerimaan dari lingkungan sekitarnya.

Karena itu, perhatian orang tua tidak cukup hanya diwujudkan melalui pemenuhan kebutuhan fisik. Kebutuhan emosional anak juga perlu dipenuhi agar tidak mencari perhatian dari luar rumah.

Psikolog klinis, Tyas Anastasya Pratiwi SPsi MPsi Psikolog mengatakan, kebutuhan akan perhatian dan validasi menjadi salah satu alasan remaja mudah terpengaruh oleh orang lain.

Baca Juga: Bukan Sekadar Dinasihati, Psikolog Ungkap Remaja Perlu Orang Tua dan Guru yang Mau Mendengarkan

"Kebutuhan akan perhatian dan validasi sering kali menjadi celah yang dimanfaatkan pihak luar. Itu kenapa anak remaja rentan luluh misalkan mendapat rayuan, perhatian, pujian, terutama dari lawan jenis," ungkap Tyas, dikutip dari Jawapos. 

Kenali Bahasa Cinta Anak

Menurut Tyas, kondisi tersebut bisa semakin mudah terjadi apabila kebutuhan emosional anak tidak terpenuhi di rumah. Karena itu, orang tua perlu memahami bahasa cinta anak agar bentuk kasih sayang yang diberikan benar-benar dirasakan.

Ia menjelaskan, tidak semua anak merasa dicintai melalui pemberian fasilitas atau materi.

Baca Juga: Remaja dan AI: Drama Esok Tanpa Ibu Menyoroti Kehilangan dan Teknologi Masa Kini

"Terkadang orang tua merasa cukup memberikan segala fasilitas dan uang untuk menunjukkan kasih sayangnya. Tapi, kalau bahasa cinta anak words of affirmation, ya tangki cintanya tidak terpenuhi. Begitu ada orang luar memuji cantik, dia luluh," ujarnya.

Tyas menyarankan agar orang tua tidak ragu menanyakan langsung bentuk kasih sayang yang paling membuat anak merasa dicintai.

"Misalnya, Kak, kamu tuh lebih merasa disayang kalau mamah ngapain sih. Ketika sudah tahu, kita boleh melakukan tindakan serupa secara konsisten tanpa syarat. Jadi, bukan saat anak melakukan pencapaian aja," lanjut Tyas.

Baca Juga: Jangan Salah Pilih, Ini Tips Memilih Daycare Berkualitas agar Anak Tetap Aman dan Terasuh Baik

Menurutnya, kasih sayang yang diberikan secara konsisten akan membantu membangun ikatan emosional yang kuat antara orang tua dan anak sehingga remaja tidak mudah mencari validasi dari orang lain. (*)

Editor : Chairunnisya
psikolog klinis tangki cinta anak komunikasi keluarga bahasa cinta Remaja