Menjalin Hubungan dengan Duda atau Janda, Ini Hal yang Perlu Dipahami

Chairunnisya • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 17:46 WIB
Ilustrasi single parents dengan pasangannya. (AI)
Ilustrasi single parents dengan pasangannya. (AI)

PONTIANAK POST - Menjalin hubungan dengan seseorang yang pernah menikah tentu membutuhkan kesiapan yang berbeda. Apalagi jika calon pasangan sudah memiliki anak dan masih menjalani relasi pengasuhan dengan mantan pasangan.

Ada latar belakang hubungan sebelumnya, pengalaman masa lalu, aturan pengasuhan yang sudah terbentuk, hingga ekspektasi yang perlu dipahami sebelum hubungan berjalan lebih jauh.

Relationship coach sekaligus author 17 buku tentang relasi, Arif Putra SH, mengatakan komunikasi perlu dibangun sejak awal.

’’Harus lebih berhati-hati dan mengutamakan komunikasi sebelum resmi berpacaran,’’ ujar Arif, dikutip dari Jawapos.

Baca Juga: Horoskop Cinta Agustus 2026: 12 Zodiak Hadapi Dinamika Asmara Berbeda Pekan Ini

Menurutnya, calon pasangan perlu memahami alasan di balik status duda atau janda, terutama bila cerai hidup.

Informasi tersebut penting untuk membantu seseorang mengenali pengalaman, trauma (jika ada), dan ekspektasi yang dibawa pasangan ke dalam hubungan baru.

Kenali Kompleksitas yang Sudah Ada

Baca Juga: Tips Asmara & Kesehatan: Mengapa Menjaga Keseimbangan Energi Rahim Penting Sebelum Menikah

Hubungan dengan seseorang yang pernah menikah dan memiliki anak memiliki kompleksitas tersendiri. Karena itu, calon pasangan perlu memahami bahwa kehidupan pasangan tidak hanya berkaitan dengan hubungan romantis yang baru dibangun.

Ada relasi dengan anak dan pola pengasuhan yang sudah terbentuk sebelumnya. Jika mantan suami atau istri masih ada dan tetap memiliki hubungan dengan anak, kondisi tersebut juga perlu dipahami.

Pemahaman sejak awal dapat membantu pasangan mengetahui posisi masing-masing dan membangun hubungan dengan lebih hati-hati.

Sadari Posisi sebagai Orang Baru

Dalam kehidupan anak, pasangan baru perlu menyadari bahwa dirinya merupakan orang luar yang belum mengenal anak tersebut.

Keterlibatan dalam kehidupan anak sebaiknya dilakukan dengan sepengetahuan dan persetujuan orang tuanya.

’’Harus sadar diri bahwa kita adalah orang luar yang belum mengenal si anak. Jadi, segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan anak, pengasuhan, dan pengambilan keputusan harus sepengetahuan dan seizin orang tua,’’ jelas Arif.

Baca Juga: Sulit Lepas dari Toxic Relationship? Begini Cara Keluar dari Hubungan Tanpa Rasa Bersalah

Kesadaran tersebut menjadi semakin penting ketika anak telah memasuki usia remaja. Pada fase itu, kehadiran pasangan baru orang tua bisa lebih mudah dipersepsikan sebagai ancaman terhadap posisi orang tua biologis.

Karena itu, pasangan baru sebaiknya tidak terburu-buru menganggap dirinya dapat menggantikan ayah atau ibu anak tersebut. (*)

Editor : Chairunnisya
hubungan duda hubungan janda relationship coach pasangan pernah menikah komunikasi pasangan