Cara Mendekati Anak Pasangan Tanpa Menggantikan Peran Orang Tua Biologis

Chairunnisya • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 18:01 WIB
Ilustrasi single parent bersama anak dan pasangan barunya. (AI)
Ilustrasi single parent bersama anak dan pasangan barunya. (AI)

PONTIANAK POST - Memulai hubungan dengan seseorang yang telah memiliki anak berarti perlu membangun kedekatan dengan lebih dari satu pihak. Namun, hubungan dengan anak pasangan tidak harus langsung akrab.

Jika anak belum dapat menerima kehadiran pasangan baru, hubungan tersebut sebaiknya tidak dipaksakan. Relationship coach Arif Putra SH menyarankan pasangan baru hadir sebagai sosok yang bersahabat dan tidak memaksakan diri mengambil posisi sebagai ayah atau ibu.

Anak perlu diberi waktu untuk mengenal, menerima, dan membangun kepercayaan secara natural.

Baca Juga: Jangan Sok Mengatur, Ini Etika Pasangan Baru Saat Berhadapan dengan Anak

’’Jadilah teman dulu. Biarkan mengalir perlahan dan natural sampai anak mengizinkan tanpa menggantikan peran ayah atau ibu biologisnya,’’ tutur Arif, dikutip dari Jawapos.

Beri Anak Waktu untuk Beradaptasi

Arif juga menekankan pentingnya menyadari posisi ketika anak belum nyaman dengan kehadiran pasangan baru.

Dalam kondisi tersebut, pasangan baru dapat memberikan waktu dan mengurangi intensitas pertemuan bersama anak untuk sementara. Hubungan dapat dibangun kembali secara bertahap ketika anak mulai merasa lebih nyaman.

Baca Juga: Menjalin Hubungan dengan Duda atau Janda, Ini Hal yang Perlu Dipahami

’’Tidak ada anak yang langsung suka dengan orang baru. Kita harus tahu diri dan sadar posisi. Jangan buru-buru ingin menggantikan peran ayah atau ibu biologisnya karena kita tidak akan pernah bisa menggantikannya,’’ ungkapnya.

Pendekatan yang perlahan memberi kesempatan kepada anak untuk mengenal pasangan baru tanpa merasa dipaksa menerima kehadiran orang lain dalam kehidupannya.

Jangan Mengambil Waktu Anak Bersama Orang Tua

Sejak awal, pasangan juga perlu membicarakan batasan keterlibatan serta pembagian waktu. Jangan sampai waktu yang seharusnya digunakan orang tua untuk bersama anak justru seluruhnya diambil untuk kepentingan hubungan romantis.

Baca Juga: Sulit Lepas dari Toxic Relationship? Begini Cara Keluar dari Hubungan Tanpa Rasa Bersalah

Quality time bersama anak tetap perlu dipertahankan agar anak tidak merasa kehilangan perhatian atau posisinya tergantikan.

Dengan demikian, hubungan romantis tetap dapat berkembang tanpa mengabaikan kedekatan antara orang tua dan anak.

Teguran Hanya dalam Kondisi Tertentu

Dalam situasi tertentu, pasangan baru memang dapat memberikan teguran kepada anak. Namun, menurut Arif, hal tersebut sebaiknya terbatas pada kondisi yang menyangkut keselamatan.

Misalnya, ketika anak sedang bermain api atau berada dalam situasi yang dapat membahayakan dirinya maupun orang lain.

Baca Juga: Astrologi Agustus 2026 Sebut 5 Zodiak Ini Punya Peruntungan Terbaik, Karier dan Asmara Ikut Bersinar

Batasan tersebut membantu pasangan baru memahami kapan perlu bertindak dan kapan sebaiknya memberikan ruang kepada orang tua untuk menjalankan perannya.

Pada akhirnya, kedekatan dengan anak pasangan membutuhkan waktu. Sikap bersahabat, tidak memaksakan diri, serta memahami posisi dapat membantu hubungan berkembang secara perlahan dan natural. (*)

Editor : Chairunnisya
relationship coach pasangan baru anak pasangan kedekatan anak hubungan keluarga