PONTIANAK POST - Anak yang mulai bertanya, mempertanyakan, atau bahkan mengkritik orang tua tidak selalu sedang menunjukkan sikap membangkang.
Justru, keberanian tersebut dapat menjadi bagian dari perkembangan kemampuan berpikir dan pemahaman anak terhadap nilai-nilai di sekitarnya.
Psikolog Klinik Perspektif, Sekar Arum Sabrina MPsi Psikolog, mengatakan keberanian anak untuk bertanya berkaitan dengan hubungan yang dibangun bersama orang tua.
Baca Juga: Tips Aturan Aman Menggunakan Gawai untuk Anak dan Dewasa
Anak yang memiliki secure attachment atau hubungan yang aman dengan orang tua biasanya lebih nyaman mengajukan pertanyaan, termasuk ketika melihat sesuatu yang dianggap tidak sesuai.
’’Hubungan yang hangat membuat anak merasa aman untuk berdiskusi sekaligus mengelola rasa bersalah yang sehat ketika memahami bahwa suatu perilaku tidak sesuai dengan nilai yang telah dipelajari,’’ tutur Sekar, dikutip dari Jawapos.
Jangan Langsung Memarahi Anak
Baca Juga: Kiat Mendidik Anak di Zaman Sulit, Simak Pesan Ustaz Abdul Somad kepada Para Orang Tua
Ketika anak menyampaikan kritik, orang tua sebaiknya tidak langsung memarahinya.
Respons pertama yang dapat dilakukan adalah mendengarkan sampai anak selesai berbicara.
Setelah itu, orang tua dapat memberikan jawaban yang jujur dan disesuaikan dengan usia serta tahap perkembangan anak.
Jika memang melakukan kesalahan, orang tua juga tidak perlu takut mengakuinya.
Baca Juga: Jangan Salah Pilih, Ini Tips Memilih Daycare Berkualitas agar Anak Tetap Aman dan Terasuh Baik
’’Respons tenang, pengakuan atas kesalahan, dan komunikasi terbuka justru menjadi kesempatan untuk mengajarkan bahwa setiap orang bisa melakukan kesalahan dan tetap bertanggung jawab untuk memperbaikinya,’’ katanya.
Menurut Sekar, mengakui kesalahan tidak membuat orang tua kehilangan wibawa.
Sebaliknya, orang tua dapat menjadi teladan dengan menyebutkan kesalahan secara spesifik, menyampaikan penyesalan, menjelaskan upaya untuk memperbaiki perilaku, serta memberikan kesempatan kepada anak untuk menyampaikan pendapatnya.
’’Dari sana, anak akan belajar tentang tanggung jawab, pengendalian emosi, dan cara memperbaiki hubungan setelah terjadi konflik,’’ lanjutnya. (*)
Editor : Chairunnisya