PONTIANAK POST - Melampiaskan amarah dengan berolahraga ternyata belum tentu membuat emosi lebih terkendali.
Penelitian psikologi menunjukkan aktivitas yang meningkatkan gairah fisiologis tubuh justru dapat mempertahankan atau memperburuk rasa marah.
Temuan tersebut disampaikan Tom Denson, profesor psikologi dari University of New South Wales (UNSW), melalui The Conversation.
Baca Juga: Sulit Menemukan Pasangan? Studi Ungkap Motivasi Mencari Cinta Bisa Menentukan Hasilnya
Denson menjelaskan bahwa ketika marah, tubuh mengalami peningkatan gairah yang ditandai antara lain dengan naiknya detak jantung, tekanan darah, pernapasan, dan produksi keringat.
Sekitar 22 persen orang dilaporkan mengalami kemarahan pada hari tertentu.
Sebagian besar tidak berujung pada agresi, tetapi sekitar 8 persen mengatakan kemarahan berdampak negatif terhadap kehidupan mereka.
Olahraga Bisa Jadi Bumerang
Anggapan bahwa seseorang perlu "melampiaskan" amarah melalui aktivitas fisik berkaitan dengan konsep katarsis.
Baca Juga: Begadang terus? Dokter Sebut Kurang Tidur Bisa Bikin Mudah Marah dan Emosi, Ini Penjelasannya
Namun, penelitian menunjukkan aktivitas seperti berlari atau menaiki tangga dapat meningkatkan gairah tubuh sehingga berpotensi mempertahankan kemarahan.
Bagi sebagian besar orang, amarah sebenarnya dapat mereda dengan sendirinya dalam waktu sekitar 30 menit.
Karena itu, tidak selalu diperlukan tindakan fisik untuk menghilangkan emosi tersebut.
Memikirkan kembali kejadian yang memicu kemarahan secara berulang juga bukan solusi.
Proses yang disebut angry rumination justru dapat mempertahankan rasa marah sekaligus meningkatkan kecenderungan berperilaku agresif.
Alihkan Perhatian
Denson menyebut distraksi sebagai salah satu cara sederhana yang lebih efektif.
Baca Juga: Marah Bisa Jadi Tanda Kesedihan yang Dipendam, Kenali Faktanya Menurut Psikologi di Sini
Membaca buku, mengingat pengalaman menyenangkan, atau melakukan aktivitas netral dapat membantu tubuh menurunkan tingkat gairah.
Dalam salah satu eksperimen, sekitar 85 persen mahasiswa yang mengalihkan perhatian berhasil mengurangi tingkat kemarahan mereka.
Meditasi dan Ubah Sudut Pandang
Meditasi kesadaran atau mindfulness juga dinilai efektif.
Analisis terhadap berbagai penelitian menunjukkan aktivitas dengan tingkat gairah rendah, seperti meditasi, relaksasi, dan yoga, dapat membantu menurunkan kemarahan dan agresi.
Baca Juga: 3 Zodiak Diprediksi Merasakan Kebebasan Emosional pada Akhir Agustus 2026
Strategi lain adalah cognitive reappraisal, yakni melihat situasi dari sudut pandang yang lebih objektif.
Seseorang dapat membayangkan bagaimana orang lain menilai konflik tersebut atau mempertimbangkan tekanan yang mungkin dialami pihak yang memicu kemarahan.
Cara ini menciptakan jarak psikologis sehingga seseorang tidak terlalu larut dalam emosi.(*)
Editor : Budi Miank