PONTIANAK POST - Mengajarkan anak untuk bersikap ramah memang penting.
Namun, anak juga perlu memahami bahwa keselamatan diri harus menjadi prioritas, terutama ketika menghadapi situasi yang membuat mereka merasa tidak aman.
Psikolog Puspaga DP3APPKB Surabaya Widji Lestari SPsi MPsi Psikolog mengatakan, aturan keselamatan dasar sudah dapat diperkenalkan sejak anak berusia 3–4 tahun.
Baca Juga: Cegah Bullying dan Kekerasan, Kayong Utara Perkuat POKJA BSAN untuk Sekolah Aman bagi Anak
Kenalkan Batasan Tubuh
Pada usia tersebut, orang tua dapat mulai mengenalkan batasan tubuh kepada anak. Anak juga perlu dibantu mengenali orang dewasa yang dapat dipercaya, seperti orang tua, guru, atau kakek dan nenek.
’’ATURAN keselamatan dasar sudah dapat diperkenalkan ketika anak berusia 3–4 tahun. Pada usia tersebut, orang tua dapat mulai mengenalkan batas tubuh serta membantu anak mengenali orang dewasa yang dapat dipercaya, seperti orang tua, guru, atau kakek dan nenek,’’ kata Widji, dikutip dari Jawapos.
Baca Juga: Usut Tuntas Kasus Kekerasan Anak, HWCI Kalbar Puji Langkah Tegas Polres Sambas
Pemahaman tersebut dapat menjadi bekal awal agar anak mampu merespons situasi yang dianggap berbahaya.
Ajarkan Tiga Langkah
Widji menyarankan prinsip tiga langkah, yakni NO-GO-TELL. Prinsip tersebut membantu anak mengetahui tindakan yang dapat dilakukan ketika menghadapi situasi yang tidak aman.
Langkah pertama adalah mengatakan tidak dengan suara keras dan tegas. Setelah itu, anak harus segera pergi atau berlari menjauh menuju tempat ramai dan mencari bantuan.
Langkah terakhir adalah menceritakan kejadian tersebut kepada orang tua atau orang dewasa yang dipercaya. Keterampilan tersebut dapat dilatih melalui permainan peran di rumah.
Baca Juga: Kekerasan terhadap Anak di Mempawah Jadi Tanggung Jawab Bersama, FAD Didorong Terus Berinovasi
Orang tua dapat membuat berbagai skenario sederhana agar anak terbiasa mengucapkan penolakan dengan tegas sekaligus menjauh dari situasi yang tidak aman.
’’Keterampilan itu dapat dilatih melalui permainan peran di rumah. Orang tua dapat membuat berbagai skenario sederhana agar anak terbiasa mengucapkan penolakan dengan tegas dan menjauh dari situasi yang tidak aman,’’ tuturnya. (*)
Editor : Chairunnisya