Oleh: Florianus Odillo, S. Pd.
SECARA etimologis, kata literasi berasal dari bahasa Latin; literatus, yang berarti "orang yang terpelajar". Proses belajar ini sangat terkait dengan kemampuan membaca dan menulis. Menurut UNESCO, literasi modern mencakup lebih dari sekadar kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Literasi saat ini juga melibatkan kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami, menginterpretasi, mencipta, dan berkomunikasi dalam dunia yang semakin digital, berbasis tulisan, kaya informasi, dan berkembang pesat. Dengan demikian, literasi tidak hanya menjadi keterampilan dasar, tetapi juga alat pemberdayaan bagi individu dan komunitas dalam mengakses informasi yang relevan dan mengikuti perkembangan zaman.
Hasil Program Penilaian Siswa Internasional (PISA) 2022 yang diumumkan pada akhir 2023 menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat 68 dari 80 negara dalam kemampuan membaca. Dengan skor 359, Indonesia jauh di bawah rata-rata global yang mencapai 475. Posisi ini lebih rendah dibandingkan dengan Panama dan Makedonia Utara, namun sedikit lebih tinggi daripada Albania, Guatemala, dan Palestina. Selain itu, hanya 25% siswa Indonesia yang mampu mencapai Level 2, yang berarti mereka dapat mengidentifikasi ide pokok dalam teks dan menemukan informasi tersurat yang kompleks. Ironisnya, sangat sedikit siswa yang mencapai Level 5, yang diharapkan mampu memahami teks panjang, konsep abstrak, serta membedakan antara pendapat dan fakta.
Kemampuan membaca juga menjadi perhatian utama dalam Asesmen Nasional (AN) yang baru saja dilaksanakan pada September (untuk SMA dan SMP) dan Oktober (untuk SD) 2024. Di Kabupaten Sanggau, hasil Asesmen Nasional menunjukkan bahwa sebagian besar siswa di tingkat pendidikan menengah berada pada kategori "Sedang", dengan 40-70% siswa mencapai kompetensi minimum dalam literasi. Meskipun hasil ini cukup baik, sekitar 30% siswa masih berada di bawah standar, yang menunjukkan tantangan besar dalam meningkatkan literasi di Indonesia.
Pemerintah, melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, khususnya Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, telah meluncurkan berbagai program untuk meningkatkan literasi. Salah satunya adalah Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang dimulai pada 2015. Program ini bertujuan untuk menumbuhkan budaya literasi di sekolah dengan pendekatan yang lebih holistik dan menyeluruh. Meskipun banyak upaya telah dilakukan, tantangan untuk meningkatkan literasi di Indonesia masih besar dan memerlukan perhatian terus-menerus dari semua pihak.
Salah satu bentuk penerapan literasi di Kabupaten Sanggau pada tahun 2024 adalah Festival Drama Pelajar yang diselenggarakan pada 5 November 2024. Festival ini istimewa karena mengangkat cerita rakyat sebagai tema utama, dengan peserta drama membawakan cerita-cerita yang berasal dari kearifan lokal Kabupaten Sanggau. Kegiatan ini sejalan dengan teori Contextual Teaching and Learning (CTL), yang menekankan pembelajaran kontekstual di mana dunia nyata dimasukkan ke dalam kelas agar siswa dapat membangun pengetahuan berdasarkan pengalaman mereka. Selain itu, penerapan drama sastra bertujuan menghidupkan literasi di sekolah melalui cerita rakyat yang kaya akan nilai dan makna.
Cerita rakyat dan dongeng adalah bentuk sastra yang dekat dengan masyarakat, terutama peserta didik. Cerita ini bersumber dari kearifan lokal, dengan penokohan dan bahasa yang sederhana, serta memiliki nilai-nilai yang dapat dipahami baik secara tersurat maupun tersirat. Hal ini sejalan dengan penelitian Dewi Prajnaparamita Amandangi (2020), yang menyatakan bahwa pengembangan materi cerita rakyat dalam pelajaran Bahasa Indonesia dapat memperkaya literasi, terutama untuk pemelajar BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing) tingkat menengah, dengan mengintegrasikan konteks budaya dan nilai sosial.
Untuk memasyarakatkan cerita rakyat, pemerintah juga telah menetapkan tanggal 28 November sebagai Hari Dongeng Nasional, yang bertepatan dengan hari kelahiran Drs. Suryadi, yang lebih dikenal dengan nama Pak Raden dalam cerita Si Unyil. Penetapan hari dongeng ini diprakarsai oleh Forum Dongeng Nasional dan diluncurkan pada 28 November 2015, di Perpustakaan Kemendikbud, dengan dihadiri oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, Anies Baswedan.
Peringatan Hari Dongeng Nasional memiliki pesan mendalam untuk menghormati Pak Raden sebagai tokoh dongeng nasional, yang sepanjang hidupnya menghadirkan cerita dan dongeng di masyarakat. Peringatan ini juga bertujuan agar dongeng, sebagai warisan budaya, bisa mendapatkan tempat di hati masyarakat dan memberikan dampak positif dalam peningkatan literasi anak. Dongeng yang sarat nilai-nilai luhur diharapkan dapat membantu mengembangkan kemampuan berbahasa dan literasi anak-anak.
Dengan kebijakan ini, diharapkan para guru dapat lebih mudah mengintegrasikan materi cerita rakyat dan dongeng dalam kegiatan pembelajaran, baik dalam mata pelajaran utama (seperti Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris) maupun kegiatan kokurikuler. Materi cerita rakyat dapat diambil dari cerita lisan setempat yang disadur menjadi tulisan, atau menggunakan cerita rakyat yang telah ada. Salah satu sumber yang dapat diakses adalah Buku Kumpulan Dongeng Pelajar Pancasila yang berisi 30 cerita rakyat dari seluruh Nusantara, yang dapat diunduh secara gratis di laman Pusat Penguatan Karakter.
Penelitian yang dilakukan oleh Nurhamizah Isak (2020) di UiTM Melaka, Malaysia, juga menunjukkan bahwa penggunaan cerita rakyat dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa, khususnya di tingkat sekolah dasar. Cerita rakyat yang disajikan dalam konteks pembelajaran memberikan dampak positif terhadap pemahaman siswa dalam membaca.
Selain itu, kegiatan kokurikuler juga bisa dimanfaatkan untuk memperkenalkan dongeng. Salah satu cara yang efektif adalah dengan membacakan dongeng di luar jam pelajaran sebagai bagian dari program literasi sekolah. Kegiatan ini melibatkan semua guru dalam satuan pendidikan, dengan guru berperan sebagai pendongeng yang membawakan cerita dengan menarik. Untuk mendukung suasana, guru bisa menggunakan alat peraga atau pengeras suara. Setelah sesi dongeng, siswa diminta untuk membuat ringkasan atau ulasan cerita untuk menguji pemahaman mereka.
Penerapan lain yang bisa dilakukan adalah melalui praktik drama yang diintegrasikan dalam kegiatan P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) atau ekstrakurikuler. Kolaborasi antar guru lintas mata pelajaran dapat memperdalam pemahaman siswa terhadap cerita rakyat, sehingga mereka dapat “menyelam” lebih jauh dan memahami cerita secara menyeluruh. Kegiatan ini juga akan melibatkan pancaindra siswa, membuat mereka lebih merasakan pengalaman dalam cerita tersebut.
Dengan berbagai langkah ini, diharapkan literasi di kalangan siswa semakin meningkat, dan mereka dapat lebih memahami serta menghargai warisan budaya bangsa melalui cerita rakyat. Selamat Hari Dongeng Nasional, dan mari ber-literasi dengan riang gembira!
(Penulis adalah Kepala Sekolah & Guru Bahasa Inggris SMP Negeri 5 Satu Atap Bonti, Kabupaten Sanggau)
Editor : A'an