“Sebetulnya kalau YoY kita belum resesi, karena ini baru pertama kali kita kontraksi. Resesi dilihat YoY untuk dua kuartal berturut-turut,” ujarnya, Konferensi Pers Virtual, Rabu (5/8).
Sri Mulyani menjelaskan, syarat resesi adalah pertumbuhan ekonomi dua kuartal berturut-turut mengalami kontraksi atau tumbuh negatif. Sementara, Indonesia sendiri baru pertama kali mengalami kontraksi ekonomi tahun ini.
“Ini akan menjadi pemicu bagi kita agar kuartal-III dan kuartal-IV tidak negatif atau bisa dihindarkan dalam zona negatif growth,” tuturnya.
Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menargetkan, ekonomi pada kuartal-III bisa tumbuh 0-0,5 persen, seiring pemulihan ekonomi. Namun, dia mengakui masih ada kemungkinan negatif karena ada penurunan di beberapa sektor.
Sri Mulyani menambahkan, pada pengujung tahun atau kuartal-IV diharapkan perekonomian Indonesia dapat tumbuh mendekati 3 persen. “Jika itu terjadi, maka keseluruhan ekonomi 2020 diharapkan akan tetap di zona positif mimnimal 0-1 persen,” pungkasnya. (*) Editor : Administrator