Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Harga Karet Mulai Menguat

Super_Admin • Minggu, 16 Agustus 2020 | 08:11 WIB
KARET: Bahan olah karet hasil sadapan petani di Kalbar dianggap kurang memenuhi standar mutu. Hal ini membuat harganya sulit naik.
KARET: Bahan olah karet hasil sadapan petani di Kalbar dianggap kurang memenuhi standar mutu. Hal ini membuat harganya sulit naik.
PONTIANAK – Harga karet menguat seiring meningkatnya permintaan komoditas itu dari sejumlah negara di dunia. Indonesia, terkhusus Kalbar, sebagai salah satu penghasil karet kena imbasnya. Menguatanya harga karet ini semestinya diiringi dengan perbaikan mutu karet melalui perbaikan tata niaga yang benar.  Ketua Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Kalbar Jusdar mengatakan harga karet terus mengalami tren kenaikan seiring mulai lancarnya arus perdagangan luar negeri. “Sekarang harga karet dengan kadar karet kering atau K3 yang 100 persen di pabrik Rp16.000 per kilogram," ujar Jusdar.

Ia menyebutkan pada Mei lalu, harga di pasar internasional hanya sekitar USD 1,08 per kilogram SIR 20. Namun saat ini sekitar USD 1,28 per kilogram SIR 20. menurutnya, kenaikan ini dikarenakan meningatkanya permintaan komoditas ini dari berbagai Negara. “Harga naik karena ada kenaikan permintaan dari China dan Negara lain yang mulai membuka lockdown di negaranya," kata dia. Menguatnya harga karet, sudah selayaknya mendorong terciptanya karet-karet bermutu dimulai dari tingkat petani. Karena itulah, perbaikan tata niaga komoditas itu perlu dilakukan dengan daya dukung yang kuat.

Kepala Dinas Perkebunan Kalbar, Heronimus Hero mengatakan, dibutuhkan perbaikan tata niaga karet dari hulu ke hilir dengan dukungan yang optimal dari pemerintah daerah.  “Regulasi kita sudah ada, tinggal komitmen pemerintah daerah saja, bagaimana mendorong tata niaga karet ini agar harga yang diterima petani layak dan mutu karet terjaga,” ungkap dia.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk perbaikan mutu dan kelayakan harga karet di tingkat petani adalah dengan menghadirkan badan usaha yang berfungsi menjalan tugas sebagai Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB). UPPB berfungsi sebagai badan usaha resmi yang menjalankan fungsi dalam kendali mutu, serta mengontrol margin yang pantas dalam tata niaga karet, dari petani hingga ke pabrik. UPBB ini bentuknya bisa BUMD, BUMDes, hingga koperasi.  “UPBB ini akan membeli karet dari petani dan mengirimnya ke pabrik yang telah melakukan kerja sama atau MoU,” ucap dia.

Selama ini, lanjut dia, rantai pasok komoditas karet di Kalbar terlalu panjang dan melibatkan dua hingga tiga tingkat perantara/pengepul. Kondisi ini justru merugikan petani karena harga yang diterima rendah dan tidak menguntungkan. Kondisi ini juga diperparah dengan pengepul yang semaunya mengatur harga. “Rantai pasok karet yang ada saat ini membuat karet kehilangan nilai tambahnya. Pertama karena ada dua hingga tiga tingkatan pengepul, kedua pengepul yang mengatur harga. Ini membuat disparitas harga di pabrik dan di petani sangat tinggi,” tutur dia. (sti) Editor : Super_Admin
#harga karet #karet