FIRDAUS DARKATNI, Sintang
MEMBUAT manik tidak mudah, perlu ketelatenan dan kesabaran dalam melakukan proses memanik. Salah satu penganyam manik yang ada di Sintang, Agnes Yamen, menggambarkan tingkat kesulitan pada proses menganyam manik itu ialah duduk lama.
"Kalau membaca motif, karna setiap hari bikin sih, jadi ndak sulit benar," kata Agnes. "Duduk lama bah yang bikin terasa letih nganyam barang ini, tapi kalau di rumah kan kita sambil kerja yang lain ndak juga terasa benar," katanya lagi sambil mengubah posisi duduknya.
Sejauh ini Agnes sudah sering membuat berbagai barang anyaman manik ini. Ada gelang, kalung biasa, dan kalung teratai. Sebagian besar hasil kerajinan tangannya dijual kepada pemesan-pemesan.
"Kadang kami jual sepasang gelang itu berkisar Rp50 ribu. Kalau teratai bisa sampai Rp350 ribu," pungkas Agnes.
Wakil Bupati Sintang, Askiman juga turut merespons terkait dengan kerajinan manik ini. Ia mengatakan bahwa menganyam manik merupakan sebuah usaha pelestarian seni yang sudah bersifat turun-temurun.
"Anyaman manik itu suatu kerajinan yang sangat luar biasa," kata Askiman. "Ini juga merupakan sebuah usaha pelestarian seni budaya yang sudah turun-temurun mereka miliki," tambahnya.
Saat ini, Pemda Sintang, sudah mulai melakukan pemberdayaan ekonomi masyarakat khususnya di sentra-sentra pariwisata. Askiman berujar, Pemda akan menggerakkan desa-desa untuk membina dan melihat ini sebagai salah satu usaha yang bisa dikembangkan guna menyejahterakan masyarakat. (*)
Editor : Salman Busrah