Dia bersama suaminya bertahan untuk mempertahankan hidup. "Saya sudah tujuh tahun berjualan. Memasuki musim Pagebluk Covid-19, rasanya benar-benar apa adanya," katanya belum lama ini.
Jamilah adalah satu di antara penjual aneka gorengan yang tetap bertahan, meski penjualan menurun tajam.
Baginya sehari habis banyak sudah biasa. Namun memasuki musim Pageluk Covid-19, kepalanya sering dibuatg pusing. "Pusing karena memikirkan operasional harian," ujarnya.
Operasional tersebut seperti membeli minyak goreng, aneka bahan mentah gorengan sampai memperkerjakan 3 karyawan. Semuanya dilakukan dengan perencanaan sederhana.
Sehari, Jamilah bisa membuat sampai tujuh aneka jenis gorengan.
Mulai dari pisang goreng, keladi goreng yang bahannya didatangkan dari kabupaten Sambas, daerah berjarak ratusan kilometer dari lapak dagangan sampai bahan bakwan goreng. Menu tahu goreng, tempe goreng, bakwan goreng, ubi goreng sampai korket paling disukai masyarakat.
"Semua aneka gorengan saya jual di kios atau lapak yang sudah disewa hampir Rp6 jutaan per tahun," ujarnya.
Bagi jamilah menghadapi Pagebluk Covid-19, berdagang sekaligus mencari sesuai nasi tidak boleh kendor. Berhenti di tengah pandemi, sama saja menyerah di tengah jalan. Sebab, sudah banyak kawan-kawan pedagang sesama profesi dengan dirinya menghentikan mengoreng.
"Kawan-kawan sering bercerita makan ke modal," ujarnya.
Jamilah sendiri memang punya penggemar fanatik panganan aneka goreng buatannya. Bedanya pada menu sambal disajikan saja. Selain, dari bahan cabe rawit, ada juga sambalnya dari kacang goreng dihaluskan.
Bumbu sambal tersebut terasa paling enak apabila dirasakan bersamaan gorengan.
"Memang pelanggan saya paling banyak. Mereka suka pada menu sambalnya. Saya memang membuatnya dengan bumbu khas sendiri. sehingga sangat enak di lidah," ujarnya.
Ibu 3 anak ini memang berikrar bertahan sampai masa Pagebluk Covid-19 selesai. Dia juga bertahan, karena hanya paham dengan pekerjaan membuat gorengan.
Pekerjaan ini sudah lama dilakoninya. Mulai dari menitip dagangan sampai menyewa lapak seperti sekarang. "Makanya akan rugi kalau saya tiba-tiba berhenti hanya karena virus corona ini. Semaksimal mungkin saya bertahan sampai selesai," tukas dia.(den) Editor : Salman Busrah