Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Resesi Kalbar Berlanjut, Minus 2,22 Persen Sepanjang Tahun 2020

Salman Busrah • Sabtu, 6 Februari 2021 | 09:30 WIB
Photo
Photo
PONTIANAK – Badan Pusat Statistik (BPS) akhirnya mengumumkan pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat sepanjang tahun 2020, Jumat (5/2) . Ekonomi Kalbar tahun lalu mengalami minus 2,22 persen. Hal ini membuat resesi di Kalbar dipastikan berlanjut setelah triwulan II dan III tahun 2020 ekonomi provinsi ini juga tumbuh minus. Angka tersebu juga lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi nasional yang minus 2,07 sepanhang tahun lalu.

Kepala BPS Kalbar, Moh Wahyu Yulianto menjelaskan, perekonomian Kalimantan Barat berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku triwulan IV-2020 mencapai Rp 55.631,31 miliar dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 34.703,91 miliar. Dari sisi produksi, kontraksi terbesar didorong oleh Lapangan Usaha Penyedia Akomodasi dan Makan Minum serta Transportasi dan Pergudangan yang masing-masing terkontraksi sebesar 19,3 dan 19,1 persen.

Sementara dari sisi pengeluaran kontraksi terbesar terjadi pada Komponen Pengeluaran LNPRT yang terkontraksi sebesar 1,88 persen. “Dari sisi produksi, kontraksi terbesar didorong oleh Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan yang terkontraksi 22,58 persen. Dari sisi Pengeluaran, kontraksi terbesar dialami oleh Komponen Ekspor Barang dan Jasa yang terkontraksi sebesar 9,95 persen,” ujarnya.

Ekonomi Kalimantan Barat triwulan IV-2020 memang terkontraksi minus 2,22 persen (y-on-y). Sedangkan secara komulatif (c-to-c), terkontraksi minus 1,82 persen. Namun kabar baiknya, secara tiga bulanan, ekonomi Kalbar pada kwartal terakhir tahun lalu tumbuh sebesar 3,64 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi didorong oleh Lapangan Usaha Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial yang tumbuh sebesar 30,19 persen. Sementara dari sisi Pengeluaran dicapai oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah yaitu sebesar 14,45 persen.

Struktur ekonomi Kalimantan Barat pada triwulan IV-2020 didominasi oleh Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 19,95 persen, Industri Pengolahan 16,64 persen, Konstruksi 13,34 persen dan Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 13,08 persen. Sementara dari sisi Pengeluaran didominasi oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga yaitu sebesar 49,54 persen, Pembentukan Modal Tetap Bruto sebesar 31,67 persen, dan Pengeluran Konsumsi Pemerintah sebesar 14,46 persen. Namun ekonomi Kalimantan Barat diperkirakan akan bangkit secara perlahan pada tahun ini. Hal ini diyakini oleh Ekonom Universitas Tanjungpura Prof Dr Edyy Suratman. Pasalnya, kata dia, vaksinasi Covid-19 telah dimulai. Hal tersebut memicu optimisme di masyarakat, terutama dunia usaha. “Tahun ini bisa kembali normal. Syarat utamanya adalah lancarnya proses vaksinasi Corona. Yang membatasi ekonomi dan ruang gerak masyarakat  adalah Covid-19. Jadi vaksin menjadi kunci ekonomi untuk bangkit,” sebut dia.

Dia berharap kecepatan pengadaan dan distribusi vaksin dari pemerintah. Bila itu terjadi, maka dia menghitung pertumbuhan ekonomi Kalbar bisa mencapai 4,5-5,25 persen pada tahun ini. Lebih tinggi dari perkiraan pemerintah.  “Perkiraan kita pada triwulan-I 30 persen target penduduk sudah tervaksin. Lalu pada akhir Juni sudah 50 persen penduduk tervaksin. Maka pertumbuhan ekonomi kita akan mirip dengan nasional di kisaran lima persen,” katanya.

Lanjut dia, sektor-sektor seperti transportasi udara, perhotelan, pariwisata, kuliner, dan lainnya baru bisa bangkit setelah vaksinasi selesai. Namun kata dia, sektor-sektor yang menjadi andalan masyarakat Kalbar justru tampak tidak terlalu tedampak pandemi tahun lalu. Adapun komoditas ekspor Kalbar kemungkinan porspeknya tahun ini akan sama seperti tahun lalu. Baik barang mentah maupun produk jadi.

Pasalnya kemungkinan permintaan dari negara konsumen juga akan meningkat lantaran mereka juga sedang dalam proses vaksinasi. Bangkitnya ekonomi negara-negara maju tersebut, kata dia, sama dengan meningkatnya konsumsi. Hal tersebut akan mendorong permintaan barang-barang dari Indonesia.

Gambaran mulai membaiknya ekonomi sebenarnya sudah mulai tampak pada akhir tahun 2020. Pada triwulan II pertumbuhan ekonomi Kalbar sebesar minus 3,4 persen. Dan pada triwulan III mengalami resesi sebesar minus 4,46 persen. Namun secara perbandingan triwulanan, PDRB triwulan III lebih besar. “Sementara pada triwulan IV juga minus. Tetapi secara q-to-q mengalami pertumbuhan,” ucapnya. (ars) Editor : Salman Busrah
#resesi