Ukuran bunga bangka yang satu ini terlihat tidak seperti bunga bangkai pada umumnya. Dengan ukuran yang besar. Melainkan berukuran mini. Yakni dengan tinggi 30 sentimeter dan lebar daun sekitar 25 sentimeter. Bunga ini memiliki mahkota berbentuk lonjong berwarna merah keunguan, serta bagian kelopak yang berwarna hijau muda, tanaman ini tampak cantik di antara sinar matahari yang menembus rerimbunan pohon. Fahrul Rahimin, pengelola Arboretum Sylva Universitas Tanjungpura Pontianak mengatakan, bunga bangkai ini sudah tumbuh sejak sepekan terakhir, dan sudah tiga hari bunga itu mekar dengan sempurna.
“Sudah sepekan terakhir mekarnya,” kata Fahrul saat menujukan lokasi bunga bangkai tersebut. Ia memprediksi, beberapa hari ke depan, bunga langka itu akan layu, karena waktu hidup bunga bangkai memang hanya beberapa minggu. Dikatakan Fahrul, bunga bangkai ini diperoleh dari warga di Kecamatan Sungai Kakap setahun lalu. Kemudian, diambil dan ditanam di Kawasan Arboretum untuk dilestarikan sekaligus untuk penelitian.
“Sebelumnya kita mendapatkan info dari masyarakat di daerah, Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya, bahwa ada bunga bangkai yang tumbuh, dan kita coba tanam disini, dan ini sudah satu tahun kita coba tanam di sini,”ungkapnya. Menurut Fahrul, fenomena mekarnya bunga bangkai ini bukan pertama kalinya. Pada tahun 2019, bunga bangkai jenis Amorphophallus Hewitii juga telah tumbuh di kawasan Arboretum. Fahrul mengungkapkan, data terakhir, terdapat 214 spesies tumbuhan di kawasan Arboretum Sylva Universitas Tanjungpura Pontianak. “Dengan tumbuhnya bunga bangkai jenis Amorphophallus Paeoniifolius, menambah koleksi tumbuhan di sini,” kata dia.
Berdasarkan data yang dihimpun Pontianak Post, Amorphophallus adalah nama marga tumbuhan dari suku talas-talasan (Araceae). Bunga dan tumbuhan vegetatifnya (daun) tumbuh bergantian. Bunganya pada waktu-waktu tertentu mengeluarkan bau bangkai yang keras, sehingga umum dinamai sebagai bunga bangkai. Bunga Bangkai beranggotakan sekitar 200 spesies, herba berumbi ini menyebar di wilayah tropika dan ugahari. Nama ilmiahnya berasal dari bentuk bunganya yang menyerupai penis rusak (Gr.: amorphos, bentuk yang rusak; phallos, alat kelamin lelaki).
Umbi dan bagian-bagian lain dari tanaman mengeluarkan getah yang gatal. Namun umbi dari beberapa jenisnya dapat dimakan setelah diproses dengan cara tertentu, atau diolah lebih lanjut menjadi tepung bahan kue-kue dan makanan lain. Tumbuhan berupa terna atau herba, dengan umbi di bawah tanah. Fase vegetatif (daun) tumbuh bergantian dengan fase generatif (bunga dan buah).
Tumbuhan ini kebanyakan didapati tumbuh di hutan-hutan hujan dataran rendah, hutan musim, termasuk pula di hutan-hutan yang terganggu, hutan sekunder dan lahan-lahan pertanian. Jarang didapati di tanah kapur, bunga bangkai kadang-kadang ditemukan tumbuh di lapangan-lapangan yang terbengkalai. Banyak jenisnya yang bersifat endemik. Dari sekitar 25 spesies yang tumbuh di Indonesia, 18 di antaranya endemik: delapan spesies menyebar terbatas di Sumatera, lima di Jawa, tiga di Kalimantan, dan satu spesies endemik Sulawesi. (arf) Editor : Super_Admin