Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Muka Air Laut Naik, Sejumlah Daerah di Kalbar Terancam Tenggelam

Super_Admin • Jumat, 20 Agustus 2021 | 13:01 WIB
TUNDA PERTANDINGAN: Panitia pelaksana bersama pihak keamanan sepakat untuk menunda pembukaan Liga 3 zona Kalimantan Barat grup B, antara Persipon melawan PS Sanggau, akibat suporter Persipon memaksa masuk ke stadion Keboen Sajoek, pada Sabtu (9/10). RIESA
TUNDA PERTANDINGAN: Panitia pelaksana bersama pihak keamanan sepakat untuk menunda pembukaan Liga 3 zona Kalimantan Barat grup B, antara Persipon melawan PS Sanggau, akibat suporter Persipon memaksa masuk ke stadion Keboen Sajoek, pada Sabtu (9/10). RIESA
Daerah di Kalbar Terancam Tenggelam

Sumber: Laboratorium Geodesi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB

PONTIANAK - Kota Pontianak diprediksi bakal tenggelam pada 2055 mendatang. Lantas, apa kata pakar dan aktivis lingkungan?

Guru Besar Ilmu Lingkungan Universitas Tanjungpura Dr. Gusti Zakaria Anshari mengatakan, kondisi itu diakibatkan meningkatnya muka air laut yang disebabkan oleh efek pemanasan global dan mencairnya es di kutub utara. Sehingga sebagian besar daratan, khususnya kawasan pesisir dan pulau, terancam atau rawan banjir dalam jangka waktu 30 tahun yang akan datang.

Menurut Gusti, kenaikan muka air laut sampai saat ini sudah mencapai 24 cm. Pemanasan global terus terjadi dan kemungkinan umat manusia akan lebih banyak menghadapi bencana lingkungan.

Hal senada diungkapkan Dosen Hidrologi Lingkungan Prodi Teknik Lingkungan, Untan, Kiki P. Utomo. Kiki mengatakan, efek dari pemanasan global tersebut menyebabkan naiknya muka air laut yang mengakibatkan terjadinya banjir rob, dan turunnya muka tanah yang diakibatkan eksploitasi air tanah.

Berdasarkan kajian para pakar, Kalimantan Barat menjadi salah satu provinsi di Indonesia yang sebagian wilayahnya terancam “tenggelam” pada beberapa dekade ke depan.

Di antaranya, Kebupaten Bengkayang, Kubu Raya, Kayong Utara, Ketapang, Mempawah, Kota Singkawang dan Kota Pontianak.

Khusus Kota Pontianak, kata Kiki, ada beberapa variable yang harus dilihat. Menurutnya, perubahan iklim yang berkaitan dengan hidrologi biasanya ditandai dengan peristiwa ekstrim dan menyebabkan sebuah trend. Misalnya terjadinya banjir akibat curah hujan yang tinggi. Dari situ, dapat dilihat trendnya, apakah terjadi secara berulang dan terus menerus dalam jangka waktu yang lama atau terjadi sesekali waktu saja.

“Secara makro, tanda-tanda efek dari perubahan iklim itu saat ini sudah terlihat. Namun, secara mikro, harus melihat variabel lainnya, untuk mengetahui penyebabnya,” kata Kiki.

Menurut Kiki, pembangunan secara masif yang tidak memperhatikan tata kelola drainase dapat merusak kontur tanah, sehingga mengakibatkan rusaknya daerah resapan.

“Kita tidak akan bisa mencegah banjir, yang bisa kita lakukan adalah mengelola banjir. Supaya tidak menimbulkan kerugian,” lanjutnya.

Sementara itu, Kelapa Divisi Kajian dan Kampanye Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalbar, Hendrikus Adam mengatakan, secara geografis Kota Pontianak berada pada bentang wilayah yang rendah dan berada di pesisir perairan atau sungai. Sehingga meningginya air laut menjadi ancaman dan rawan menimbulkan dampak serius.

Kerusakan lingkungan terutama kawasan yang seharusnya jadi penyangga di  perhuluan daerah, ditambah dengan permasalahan tata kota yang tidak adaptif namun terkesan permisif menjadikan wilayah kota Pontianak rawan tergenang.

“Seharusnya jika sejak lama permasalahan risiko tergenangnya kota telah disadari dengan berbagai faktor. Maka upaya antisipasi mestinya dapat dilakukan sedari awal. Termasuk memastikan agar tata kota dan mekanisme sanksi bagi pihak yang tidak mengindahkan terkait pendirian bangunan dapat jalankan,” katanya.

Dikatakan Adam, persoalan tata kota penting melibatkan dan mengadopsi praktik baik di masyarakat kota terkait dengan antisipasi risiko bencana ekologis yang tidak dikehendaki. Kepala Laboratorium Geodesi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, Heri Andreas mengungkap kajian, bukan hanya Jakarta yang diproyeksikan bakal tenggelam.

Dalam data penelitiannya, banjir rob yang perlahan-lahan menenggelamkan wilayah pesisir akibat efek global warming, sea level rise dan land subsidence telah terjadi di banyak tempat di wilayah pesisir Nusantara, ada 112 kabupaten kota yang terancam tenggelam akibat perubahan iklim.

"Penurunan tanah di sana lebih cepat dan besar. Wilayah-wilayah di bawah lautnya juga bisa lebih besar dari Jakarta serta masih ada 112 kabupaten kota yang berpotensi untuk tenggelam mulai dari Pantai Timur Sumatera, Pesisir Kalimantan, Pantura Jawa, sedikit di Sulawesi dan Papua," kata Heri Andreas kepada merdeka.com, Senin (2/8).

Penurunan lahan akibat global warming di pesisir nusantara berada di tingkat mengkhawatirkan. Pasalnya beberapa daerah di Indonesia dapat mengalami penurunan tanah (Land Subsidence) mencapai 8 - 18 centimeter per tahunnya. Beberapa daerah di Kalbar yang terancam tenggelam tersebut di antaranya Singkawang, Bengkayang, Mempawah, Pontianak, Kubu Raya, dan Kayong Utara.

Jutaan hektare wilayah pesisir Nusantara ditakutkan akan hilang perlahan secara permanen ke dalam laut, serta jutaan orang ditakutkan akan terkena dampaknya. Konsekuensi nilai ekonomi akibat banjir rob di wilayah Nusantara saat ini ditaksir melebihi angka Rp1000 triliun. Penurunan tanah dapat dikurangi bahkan dihentikan dengan mengurangi atau menghentikan eksploitasi air tanah, mengontrol eksploitasi migas dan mengontrol eksploitasi lahan gambut.

"Faktor dominan eksploitasi air tanah dengan mereduksi atau memberhentikan eksploitasi air tanah. Adanya program substitusi air tanah dengan pipanisasi, sumber-sumber air permukaan," ujarnya.

Lebih dalam, Heri Andreas juga mengatakan, dalam menyikapi potensi tenggelamnya Nusantara adalah dengan pembangunan sistem monitoring dan pemetaan risiko serta early warning. (arf) Editor : Super_Admin
#banjir