Kepala SMA Negeri 1 Pontianak, Dwi Agustina menyebutkan, ada sepuluh siswa yang di tes usap. Kemudian lima guru. Mereka yang dites usap dipilih secara acak. “Untuk siswa mereka bertanya kepada orangtua soal nomor induk kartu keluarga, sehingga para orangtua tahu anaknya akan diswab,” kata dia.
Meski demikian ada beberapa anak yang dipilih batal untuk diswab. “Orangtuanya belum merespon ketika dihubungi sehingga digantikan siswa lain,” sambung Dwi.
Dwi mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Dinas Kesehatan jika kemudian didapatkan hasil positif pada sampel yang dilakukan uji swab.
“Alhamdulillah hingga hari ini belum ada yang positif. Kami terus memantau aktivitas Pembelajaran Tatap Muka (PTM) yang dilakukan. Jika ada yang sakit maka kami anjurkan belajar daring,” jelas Dwi.
Di lain tempat, salah seorang siswa, Lisa Febriani mengatakan ini pertama kali ia ikut dalam tes usap. “Belum pernah dan ini yang pertama.,” kata siswi berusia 16 tahun itu.
Lisa mengatakan pembelajaran tatap muka sudah berjalan dua pekan. Pihak sekolah dikatakannya, menyiapkan protokol kesehatan. Seperti mengecek suhu dan menyiapkan tempat cuci tangan.
“Kalau saya sendiri membawa penyanitasi tangan,” ujar siswa kelas XI ini.
Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Barat Harrison mengatakan pengambilan sampel guru dan siswa ini untuk evaluasi pembelajaran tatap muka yang sudah digelar dalam tiga pekan terakhir ini. Sampel yang diambil tidak hanya pada sebelas sekolah.
"Semua sekolah akan kami ambil sampel untuk tes usap. Sampel yang diambil secara acak. Sampel kemarin sudah kami kirim ke Untan untuk dicek dan baru keluar hasilnya besok sore," pungkasnya. (mse) Editor : Super_Admin