Minggu sore kemarin para sahabatnya berduka. Pria yang dikenal sebagai penulis dan aktivis gerakan sosial ini mengembuskan napas terakhir di Pontianak, setelah berjuang melawan penyakitnya. Semua aktivis berkumpul, mengenang sepak terjang seorang Martin Siregar.
Pernah suatu waktu, di Kota Pontianak, ia berteriak di hadapan elit pejabat. Menurutnya, pejabat itu mesti berpihak pada PKL (Pedagang Kaki Lima) dan kelompok marjinal.
"Saat itu, ia menegaskan bahwa kelompok yang tertindas itu adalah prioritas. Dan hidup tanpa kelas sosial adalah prinsip yang ia pegang teguh," kenang Faisal Riza, salah satu sahabat Martin Siregar.
Kontribusinya pada isu perlindungan anak dan keberagaman tercermin ketika ia bersama Almarhum Abdullah HS (Komisioner Komisi Informasi Publik Kalbar 2010-2014), Almarhum Prof Hamka Siregar (Mantan Rektor IAIN Pontianak ), Hairiah (Wakil Bupati Sambas Periode 2016-2021) membentuk Yayasan Pelangi.
"Eksistensinya mempengaruhi anak muda untuk bergerak pada perubahan sosial dan sebagai pendobrak di kala masyarakat masih berada pada sekat-sekat kepentingan politik," ucap Faisal yang akrab disapa Ical ini.
Begitupun melalui karya bukunya, Unkonvensionil, Istriku, Bah!, Kawan Kentalku Bason dan Sejarah Unkonvensional. "Dia ingin mengatakan dari tulisannya, penting untuk jujur lewat kondisi dan tidak terhegemoni pada kekuasaan," tambahnya.
Banyak kalangan anak muda mengenang beliau sebagai guru, keluarga, sahabat dan teman. Tak hanya itu, ia bersama masyarakat sipil Kalbar juga pernah membuat Tabloid Selembe (Media Alternatif) pada 1999-2000. Media ini sebagai wadah untuk anak muda menuangkan karya tulisannya.
"Nilai kemanusiaan yang konsisten dari tulisan dan perilaku dipraktekkan pada gerakan dan kehidupan sehari-hari," ungkap Hermayani Putera saat mengenang Martin Siregar.
Pengamat Sosial dan Lingkungan Kalbar ini berujar, Martin Siregar adalah sosok yang banyak meninggalkan wasiat ihwal keberpihakan pada rakyat.
"Konsistensi pada nilai kemanusiaan tercermin pada saat ia bertaruh nyawa melindungi Wiji Tukul, seorang aktivis buruan orde baru, sembunyi di Pontianak. Resiko itu diambil. Dan itu terefleksi untuk anak satu-satunya, Jati. Perjalanan hidup bersama keluarganya adalah kebanggaan yang selalu ia ceritakan bersama teman-teman seperjuangan di masyarakat sipil," tutupnya. (mrd) Editor : Super_Admin