Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Nekat Bentuk Sanggar Demi Wayang

Super_Admin • Minggu, 7 November 2021 | 11:38 WIB
MASIH TINGGI: Pedagang ayam potong melayani pembeli di Pasar Flamboyan. Harga ayam potong di pasaran masih bertahan di kisaran harga Rp35 ribu perkilogram. DOKUMEN
MASIH TINGGI: Pedagang ayam potong melayani pembeli di Pasar Flamboyan. Harga ayam potong di pasaran masih bertahan di kisaran harga Rp35 ribu perkilogram. DOKUMEN
Kendati bukan penduduk asli Kubu Raya, Ki Agus Krisbiantoro ingin ambil bagian melestarikan seni wayang di kabupaten termuda di Kalimantan Barat ini. Berbekal skill, pengalaman, dan semangat yang dimiliki, bersama sejumlah rekan-rekannya, sejak September 2020, pria 55 tahun ini nekat membentuk Sanggar Wayang Hamiluhung yang terletak di Jalan Wonodadi I, Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya.

Catatan: Ashri Isnaini

WAKTU menunjukkan pukul 14.30 WIB, Jumat (5/11), Ki Agus Krisbiantoro bersama beberapa rekan-rekannya tampak sedang mempersiapkan alat-alat musik gamelan dan sound system. Mereka melatih puluhan pemuda dari Desa Sungai Raya dan beberapa desa lainnya. Biasanya latihan digelar malam hari, sekitar pukul 19.00 hingga 23.00 WIB. Namun karena Sabtu (6/11) ini mereka akan melakukan pagelaran seni wayang dalam rangka memperingati Hari Wayang Nasional, membuat jadwal latihan dimajukan lebih awal.

Sembari membenahi kerah bajunya, Ki Agus sedikit menceritakan tentang dirinya. Ayah dua anak ini merupakan putra asli Klaten, Jawa Tengah. Usai tamat SMA sekitar tahun 1986, Agus terjun berkecimpung menjadi pemain ketoprak di daerah asalnya. Bahkan karena kepiawannya, dia pernah dipercaya untuk bermain ketoprak di salah satu stasiun TV nasional kala itu. Masuk tahun 2007, Ki Agus mulai tertarik dengan seni wayang. Dengan penuh semangat, dirinya kala itu pun belajar pedalangan dan gamelan secara otodidak, hingga akhirnya mantab menjadi dalang dan ditekuninya hingga saat ini.

Photo
Photo


Sejak anak keduanya hijrah ke Kubu Raya pada tahun 2014 lalu, kala itu sesekali Ki Agus bolak-balik Kubu Raya – Klaten, untuk menjenguk sang anak. Hingga pada akhirnya, 2020 lalu, sang ibu yang berdomisili di Klaten meninggal dunia, membuaut Ki Agus bersama istrinya memutuskan untuk menetap di Kubu Raya.

Sebelum akhirnya memutuskan menetap di Kubu Raya, Ki Agus melihat ada beberapa sanggar wayang di Kubu Raya, khususnya di sekitar Jalan Wonodadi, hanya saja tidak aktif. Padahal dia melihat ada beberapa sumber daya manusia yang bisa digerakkan. Melihat potensi tersebutlah dia memberanikan diri dan bertekad untuk membangun dan mengembangkan sanggar wayang yang dipusatkan di Jalan Wonodadi.

“Saat masih bolak-balik Kubu Raya – Klaten, sekitar tahun 2017, saya dapat info ada festival dalang di Jakarta. Anak kedua saya, Ilham, yang sudah menetap di Kubu Raya saya ajukan untuk ikut lomba dalang tersebut dan mendapat juara I mewakili Kubu Raya. Dari  situlah saya mulai berupaya memotivasi tokoh-tokoh sanggar wayang setempat untuk mengembangkan sangar wayang di Kubu Raya,” ungkapnya.

Singkat cerita, saat telah menetap di Kubu Raya dan memutuskan membentuk Sanggar Wayang Hamiluhung, Ki Agus mulai mencari dukungan dan sejumlah pihak untuk membantunya dalam merintis dan mengembangkan sanggar yang telah dibentuk. Orang pertama yang ditemuinya adalah Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan. “Jujur saya tidak kenal Pak Muda, tapi saya beranikan diri untuk datang, memperkenalkan diri dan mohon izin kepada Pak Muda untuk membentuk Sanggar Wayang Hamiluhung dan meminta dukungan dan motivasinya sebagai kepala daerah, untuk mengembangkan seni budaya wayang di Kubu Raya. Alhamdulillah, Agustus saya menghadap, kala itu Pak Muda langsung merestui dan memberikan dukungannya,” paparnya.

Setelah mendapat restu dari Bupati Kubu Raya, pada 19 September 2020, Ki Agus pun mendeklarasikan terbentuknya Sanggar Wayang Hamiluhung, dengan pagelaran perdana wayang yang dipusatkan di Sanggar Hamiluhung di Jalan Wonodadi I. Selain dihadiri Bupati Kubu Raya dan Wakil Bupati Kubu Raya, Sujiwo, pada pagelaran perdana dengan menerapkan protokol kesehatan ketat tersebut, juga dihadiri sejumlah seniman lokal Kubu Raya dan Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Kalimantan Barat, Prof. Slamet Rahardjo dan beberapa pihak lainnya.

Untuk membuktikan Sanggar Hamiluhung mampu tumbuh di tengah banyaknya sanggar seni serupa di Kubu Raya yang mati suri, Ki Agus pun berkomitmen akan menggelar pertunjukan wayang selama per-35 hari sekali setiap bulannya. “Kami memang belum memiliki biaya sama sekali untuk pertunjukan wayang ini, namun kami modal nekat dan secara swadaya  dan Alhamdulillah ada banyak pihak yang mendukung memberikan bantuan seperti dari Penanggung Jawab Sanggar Hamiluhung, Pak Singgih Yunantoro dan beberapa pihak lainnya,” jelasnya.

Ki Agus membuktikan, meski kala itu di tengah pandemi, dirinya mampu secara rutin membuat pagelaran wayang dengan menerapkan protokol ksehatan ketat. “Alhamdulillah dari semula jadwal pagelaran 35 hari sekali setuap bulannya, akhirnya hingga saat ini bisa dilakukan menjadi 15 hari sekali setiap bulannya. Artinya hingga saat ini kami sanggup menggelar pentas seni wayang sebulan sebanyak dua kali dan itu dilakukan secara swadaya,” ujarnya.

Tidak bisa dipungkiri, kata Ki Agus, hingga saat ini, hasil dari bidang seni di Kubu Raya masih belum bisa memenuhi kebutuhan hidup. Namun dirinya bersama penanggung jawab sanggar Hamiluhung bercita-cita merekrut pemuda-pemudi di Kubu Raya untuk belajar seni pewayangan dan karawitan agar nantinya bisa hidup dari dunia seni.

“Cita-cita dan Pak Singgih selaku penangung jawab Sanggar ini supaya para seniman yang kami didik ini bisa laku dijual dan bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup nantinya dan pada kahirnya juga bisa berkontribusi melestarikan seni wayang di Kubu Raya ini,” jelasnya

Jauh sebelum memutuskan untuk mendirikan Sanggar Hamiluhung, Ki Agus mengaku dirnya sudah mencari referensi dan informasi mengenai perkembangan seni, khususnya seni budaya Jawa di Kalimantan Barat. “Saya melihat, pada dasarnya pemerintah ini mau mendukung pengembangan seni budaya yang ada, hanya saja para pelaku seninya masih banyak yang tidak mau melakukan dobrakan untuk memajukan bidang seni yang ditekuninya sehingga akhirnya membuat banyak yang no comment,” ungkapnya.

Tidak hanya pemuda-pemudi dari sekitar Jalan Wonodadi, kata Ki Agus, saat ini puluhan pemuda-pemudi dari Desa Tebang Kacang dan sekitarnya juga ikut terlibat latihan menjadi pengrawit hingga pedalang di Sanggar Hamiluhung. Ki Agus tidak memungkiri, butuh usaha dan perjuangan keras merangkul kaum remaja untuk terlibat langsung menekuni bahkan melestarikan seni wayang. Kendati demikian, dia memiliki trik sendiri untuk menarik minat muda-mudi berlatih gamelan dan pedalangan.

“Awalnya saya dekati satu-satu, tanyakan hobi dan kesukaan mereka, setelah itu, saya ajak mereka menyanyikan lagu-lagu kesukannya, termasuk lagu-lagu nasional pakai alat musik gamelan. Karena mudah dimainkan, akhirnya mereka senang kemudian tertarik. Saat mereka berniat ikut latihan inilah benar-benar saya gempur untuk didik bisa bisa fokus dan kian menyenangi hingga pada ikut serta melestarikan seni yang kami tekuni ini,” jelasnya.

Disinggung waktu yang dibutuhkan seseorang untuk mampu memainkan alat musik gamelan hingga menjadi pedalang, kata Ki Agus, hal tersebut bervariasi, tergantung tingkat pemahaman dan bakat yang dimiliki masing-masing orang. “Ada yang seminggu sudah bisa, ada juga yang sebulan juga sudah bisa, tergantung kemampuan masing-masing. Namun yang paling penting saya tekankan adalah komitmen dari anak-anak Sanggar untuk terus rutin berlatih mengasah kemampuan diri dan melestarikan seni wayang ini di masyarakat,” paparnya.

Bagi Ki Agus, seni apapun akan menarik jika seseorang benar-benar menjiwai untuk menekuninya termasuk seni wayang. “Kalau saya pribadi sangat tertarik dengan seni wayang, karena di dalamnya sangat berkaitan erat dengan symbol-simbol folisofi kehidupan,” ujarnya.

Dia mencontohkan, dahulu, Sunan Kalijaga saja menyiarkan agama melalui seni wayang, sehiingga mampu menarik perhatian banyak orang untuk mendalami dan menjiwai hasil dari pertujukan seni tersebut. “Ini artinya media seni wayang ini juga bisa kita gunakan untuk merangkul dan mengedukasi masyarakat, terutama kalangan remaja agar tidak mudah larut dan terpengaruh dengan pergaulan negatif di zaman modern seperti saat ini. Dan saya meyakini banyak pesan moral yang bisa disampaikan melalui media seni wayang ini. Dan saya meyakini dengan semangat dan kerja keras Insyaallah ke depan akan semakin banyak kalangan remaja, khususnya di Kubu Raya ini tertarik untuk memperlajari dan melestarikan seni wayang ini,” katanya.

Ilham (30), yang merupakan anak dari Ki Agus mengaku sangat tertantang melestarikan seni wayang terlebih di Kubu Raya yang memiliki seni budaya yang beragam. Kendati demikian, dirinya optimistis melalui pendekatan persuasif yang dilakukannya ke kalangan generasi muda lambat laun membuat pecinta seni wayang di Kubu Raya, khususnya kalangan milenial akan semakin bertambah. “Saat ini saja saya melihat antusias kalangnan remajanya sudah mulai tumbuh untuk belajar seni wayang, seperti pedalangan dan gamelan, jika hal ini terus mendapat dukungan banyak pihak bukan tidak mungkin ke depan akan semakin banyak pecinta seni wayang di Kubu Raya ini,” ungkap sosok yang karib disapa Ki Ilham ini.

Dalam rangka memperingati Hari wayang Nasional, kata Ilham, Sanggar Wayang Hamilihung juga akan menggelar pentas seni wayang yang akan digelar pada Sabtu malam (6/11) di Sanggar Hamilihung Jalan Wonodadi. “Dalam pagelaran seni wayang nanti kami juga akan mengundang unsur pemerintah daerah, budayawan, masyarakt sekitar dan sejumlah pihak terkait lainnya. Momen ini tentunya kami harapkaan bisa menjadi salh satu wadah untuk mengedukasi mayarakat tentang seni wayang sekaligus melestarikan seni wayang itu sendiri di tengah keberagaman masyarakat,” ungkapnya.

“Bagi saya sebagai salah satu orang pecinta seni wayang, saya menilali seni wayang ini asik  dan mampu memberikan pesan moral bagi siapa saja yang menyimaknya dengan baik. Dan saya juga meyakini jika kita tekuni seni wayang termasuk seni budaya lokal lainnya yang ada di daerah masing-masing, tentunya hal tersebut secara tak langsung juga bisa membentengi diri kita dari pergaulan negatif di zaman modernisasi seperti saat ini,” pungkasnya.

Sementara itu, Dewi (19), warga Desa Tebang Kacang mengaku sudah lebih dari sebulan bergabung di Sanggar Wayang Hamiluhung. Semula mahasiswi semester VII Fisip Untan bersama beberapa temannya ini telah bergabung di Sanggar Seni Siswa Karya Budaya di Tebang Kacang. Untuk menambah pengetahuannya dirinya pun berinisiatif kembali bergabung ke Sanggar Hamiluhung.

Dewi mengaku, awalnya dia memang suka bermain gamelan, namun setelah bergabung dengan Sanggar Hamiluhung membuatnya belajar lebih dalam mengenai seni pertunjukan wayang, termasuk belajar mengenai tokoh perwayangan serta jalan ceritanya.

“Awalnya saya diajakin teman, pas belajar kok keliatannya seru? terlebih sudah bisa memainkan satu gending atau lagu itu saya sangat senang. Bukan saya aja tapi teman-teman yang lain juga merasa seperti itu. Makanya kami semakin giat belajar seni wayang di sanggar ini,” jelasnya.

Tidak sekadar menyalurkan hobi dan menjadi hiburan tersendiri untuk kegiatan yang positif, bagi Dewi, selain senang main gemelan, dengan adanya latihan atau pagelaran wayang itu secara tak langsung membuat dia bersama teman-temannya juga sudah ikut melestarikan seni budaya, khususnya seni budaya Jawa.

“Bagi saya, seni wayang ini asik dan menarik, jika kita jeli dan mampu memainkan serta menyimaknya, maka banyak pesan moral yang bisa disampaikan melalui seni wayang ini. Makanya saya saat ini menjadi lebih giat berlatih karena salah satu harapan saya ke depan membuat lebih banyak remaja, khususnya di Kubu Raya ini juga ikut andil mempelajari dan melestarikan salah satu seni budaya yang kita miliki di Kubu Raya ini,” pungkasnya. (*) Editor : Super_Admin
#wayang #hari wayang nasional