KUCHING- Rainforest World Music Festival 2022 baru saja digelar 17-19 Juni lalu di Kuching. Acara dengan puluhan ribu penonton tersebut tentu saja menjadi konser musik pertama, terbesar dan paling ramai ditonton sejak Malaysia mengumumkan berakhirnya pandemi pada April lalu. 60 grup musik dari 20 negara tampil bergantian secara hybrid.
Namun, event musik skala internasional ini tak berhenti sampai disini. Sarawak Tourism Board sebagai pelaksana event, kembali menggelar konser musik jazz di Miri 24-26 Juni 2022. Musisi jazz kelas dunia tampil dalam konser ini.
Konser musik tersebut merupakan penanda bangkitnya wisata di Sarawak. Di hari pelaksanaan festival, hampir seluruh hotel dan penginapan di Kuching terisi penuh. Bahkan, beberapa rumah di sekitar area festival berubah menjadi homestay untuk para wisatawan.
Rumah makan pun tak ketinggalan untuk diserbu pengunjung. Top Spot, salah satu food court di Kuching, nyaris tak berhenti didatangi pengunjung. Sejak petang, tempat ini sudah ramai dikunjungi, bahkan harus mengantri untuk dapat tempat duduk saat waktu makan malam tiba.
Tak hanya datang untuk menonton konser atau liburan. Pontianak Post turut memantau suasana di perbatasan Entikong - Tebedu. Beberapa warga dari Kalbar mengantri sejak pagi untuk masuk ke wilayah Malaysia. Mereka datang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di rumah sakit yang akan mereka tuju. Ya, Kuching terkenal sebagai tujuan untuk berobat bagi warga Kalbar.
Meski sudah hampir tiga bulan membuka perbatasan daratnya, namun kondisi transportasi di perbatasan belum pulih. Sebelum pandemi, ongkos pulang pergi untuk satu orang menggunakan bus berkisar 350-450 ribu rupiah. Namun kini, bus belum beroperasi, masyarakat harus merogoh kocek lebih dalam dan usaha lebih keras untuk pergi ke Sarawak. Bagi mereka yang membawa kendaraan sendiri, tentu lebih mudah, namun perlu diingat, untuk saat ini border hanya beroperasi hingga pukul 2 siang.
Menteri Pariwisata Malaysia, Nancy Shukri kepada Pontianak Post mengatakan akan segera berkoordinasi dengan pemerintah Sarawak untuk segera memulihkan transportasi umum di perbatasan.
"Saya akan segera berkoordinasi dengan Premier of Sarawak untuk segera mencari jalan keluar untuk permasalahan ini. Karena banyak orang dari Indonesia yang butuh pelayanan perobatan di Sarawak," kata Nancy.
Selain itu, Nancy mengakui, warga kedua negara yang berbatasan darat ini sudah rindu untuk saling mengunjungi satu sama lain.
"Sudah tentu orang Pontianak rindu untuk datang ke Kuching, begitu juga sebaliknya, orang Kuching sudah rindu untuk datang ke Pontianak," tutur perempuan cantik asal Sarawak ini. (azk)
Editor : Shando Safela