November tahun ini sejatinya adalah momen yang bersejarah untuk Crooks.
Ia telah cukup umur untuk memilih dalam pilpres pertamanya.
Alih-alih menyambut momen berharga itu, ia justru melancarkan aksi nekat, mencoba membunuh calon presiden yang tengah berlaga.
Dilansir dari CNN, Crooks adalah seorang remaja 20 tahun yang tinggal di Bethel Park, pinggiran kota Pittsburgh.
Lokasi itu sekitar 1 jam perjalanan ke selatan tempat Trump berkampanye di Butler, Pennsylvania.
Pemuda itu lulus dari Sekolah Menengah Bethel Park pada tahun 2022.
Lebih dari setengah lusin mantan teman sekelas dan tetangga Crooks yang diwawancarai CNN menggambarkan dia sebagai orang yang pendiam.
Teman-teman sekelasnya mengingatnya sebagai murid yang baik dan canggung saat bersekolah di sekolah menengah.
Jason Kohler, 21, yang bersekolah di sekolah menengah yang sama, mengatakan kepada CNN bahwa Crooks sering mendapat intimidasi dari siswa lain. Ia juga sering menyendiri.
’’Saat dia berjalan melewati lorong sekolah, tidak ada ekspresi wajah yang ditunjukkan. Dia bukan anggota kelompok (geng). Jadi menurutku, dia selalu punya target di punggungnya,’’ ujar Kohler.
Dia mengatakan Crooks diolok-olok karena caranya berpakaian. Sepanjang yang diingatnya, Crooks kadang mengenakan pakaian berburu.
Mantan siswa lain di sekolah tersebut, Sarah D’Angelo, mengingat Crooks sebagai anak yang pendiam.
’’Tidak terang-terangan berpolitik atau melakukan kekerasan dalam hal apa pun,’’ jelas D’Angelo.
Dia mengatakan satu-satunya momen dia berbicara dengan Crooks adalah ketika kelas mereka sedang menunggu upacara wisuda dimulai.
Teman sekelas ketiga, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya, mengatakan bahwa Crooks sangat pintar, mengambil kelas kehormatan, dan cenderung pemalu.
Dia mengatakan bahwa Crooks memiliki sekelompok teman yang cukup konservatif, beberapa di antaranya akan memakai topi Trump.
’’Pasti ada perbincangan tentang dia yang terlihat sedikit berbeda. Hampir seperti suasana retro nerd,’’ jelas kawan sekelas itu.
’’Saya terkejut — saya tidak percaya dia melakukan sesuatu yang berani, mengingat dia adalah orang yang pendiam dan tertutup,’’ imbuhnya.
Pengalaman sekolah menengah Crooks sempat terkendala oleh pandemi.
Kala itu, ia dan siswa lainnya tidak bersekolah selama berbulan-bulan pada tahun 2020 dan diizinkan untuk belajar jarak jauh.
Pihak berwenang masih terus mendalami motif Crooks melakukan aksi nekatnya tersebut.
Dan Grzybek, perwakilan dewan daerah di daerah tempat Crooks dibesarkan, mengatakan bahwa lingkungan tempat tinggalnya mayoritas didiami oleh masyarakat kelas menengah atas.
Laporan New York Times menyebut, Crooks pernah bekerja di panti jompo.
Saat mendengar keterlibatannya dalam penembakan pada Trump, organisasi tempat Crooks dulunya bekerja itu mengaku terkejut.
Kevin Rojek, agen khusus yang bertanggung jawab di kantor lapangan FBI di Pittsburgh, mengatakan kepada wartawan bahwa senjata yang digunakan dalam penembakan itu adalah senapan semi-otomatis jenis AR yang dibeli secara legal.
Penyelidik yakin senjata itu dibeli oleh ayah Crooks. Rojek menambahkan, sejauh ini belum ada indikasi adanya masalah kesehatan mental.
’’Kami bekerja keras untuk menentukan urutan kejadian terkait subjek dan pergerakannya beberapa jam, hari, dan minggu sebelum penembakan,’’ kata Rojek.
Menurut juru bicara Pentagon Mayor Jenderal Pat Ryder, Crooks juga tidak memiliki afiliasi militer.
Ketika dihubungi CNN, ayah Crooks, Matthew Crooks, mengatakan dia mencoba mencari tahu apa yang terjadi.
’’Namun, saya baru akan berbicara tentang putra saya, sampai saya berbicara dengan penegak hukum,’’ ujar ayah Crooks.
Dia tidak dapat dihubungi lagi pada hari Minggu.
Catatan Komisi Pemilihan Umum Federal menunjukkan bahwa pemuda itu terdaftar pernah memberikan USD 15 kepada Progressive Turnout Project.
Itu adalah komite aksi politik yang berpihak pada Partai Demokrat.
Crooks memberikan donasi itu pada hari ketika Presiden Joe Biden dilantik yakni 20 Januari 2021. Saat itu, Crooks berusia 17 tahun.
Juru bicara Progressive Turnout Project mengatakan dalam email bahwa kelompok tersebut membenarkan menerima donasi tersebut.
’’Sebagai tanggapan terhadap email tentang penyetelan pelantikan dan bahwa alamat email yang terkait dengan kontribusi tersebut hanya memberikan satu kontribusi dan berhenti berlangganan dari daftar kami, dua tahun yang lalu,’’ jelas organisasi itu.
’’Kami dengan tegas mengutuk kekerasan politik dalam segala bentuknya, dan kami mengecam siapa pun yang memilih kekerasan daripada tindakan politik damai,’’ imbuh mereka.
Belakangan pada tahun itu, tepatnya seminggu setelah menginjak usia 18 tahun, Crooks mendaftar sebagai anggota Partai Republik.
Hal itu termuat dalam daftar di database pemilih Pennsylvania yang cocok dengan nama, usia, dan alamatnya.
Juru bicara Allegheny County menuturkan, Crooks hanya memberikan suara satu kali.
Tepatnya pada pemilihan umum paruh waktu tahun 2022.
Kedua orang tua Crooks bekerja sebagai pekerja sosial.
Ayahnya terdaftar untuk memilih sebagai seorang Libertarian dan ibunya terdaftar sebagai seorang Demokrat. (dee/agf)
Editor : Syahriani Siregar