NEW YORK – Upaya perlawanan terhadap kekejian Israel di Palestina dan Lebanon terus digaungkan Indonesia. Terbaru, delegasi Indonesia melakukan aksi walk out saat Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu berpidato di Sidang Majelis Umum (SMU) PBB di New York, Amerika Serikat (AS), Jumat (27/9).
Indonesia tidak sendiri. Dalam video yang diunggah Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI, sejumlah delegasi dari Turki dan negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), negara Gerakan Non-Blok (GNB), Kuwait, Iran, Pakistan, Malaysia, Kuba, dan lainnya berjalan meninggalkan meja. Aksi solidaritas untuk kemanusiaan itu mereka lakukan saat Netanyahu memasuki aula utama. Suara sorakan dan tepuk tangan menggema di seantero ruangan mengiringi kedatangan Netanyahu.
’’Indonesia dan banyak negara memilih walk out saat Netanyahu menyampaikan pidato di SMU PBB,” ungkap Direktur Informasi dan Media Kemenlu RI Hartyo Harkomoyo dalam pesan singkatnya, Jumat (27/9).
Aksi walk out itu dilakukan sebagai bentuk protes atas kekejian Israel terhadap warga Palestina di Gaza dan penduduk Lebanon. Seperti diketahui, dalam beberapa hari terakhir, Israel terus melancarkan aksi terornya ke Lebanon Selatan, bahkan sudah merambah hingga Beirut.
Delegasi Indonesia yang dipimpin Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi memang terus membawa isu Palestina dalam tiap pertemuan yang diikuti. Dalam pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Slovenia Robert Golob yang kini menjabat presiden Dewan Keamanan PBB, Retno secara gamblang meminta agar Slovenia terus mendorong perjuangan rakyat Palestina, termasuk melalui pengiriman bantuan kemanusiaan.
’’Indonesia berharap Slovenia, sebagai presidensi DK PBB, mendesak Israel menghentikan kekejaman dan pendudukannya di Palestina,” ujarnya.
Retno juga mengapresiasi keputusan Slovenia yang mengakui kedaulatan Palestina pada 4 Juni 2024. Slovenia secara konsisten menyerukan pentingnya gencatan senjata dan kelancaran pemberian bantuan kemanusiaan bagi Gaza melalui UNRWA.
Retno pun mengikuti pertemuan yang membahas solusi dua negara dan situasi di Gaza pada SMU PBB. Dalam pertemuan tersebut, dia mendesak agar solusi dua negara segera diimplementasikan.
’’Saya akan terus terang. Pertama, pengakuan terhadap negara Palestina sangat penting. Mengapa? Karena ini memberikan harapan kepada rakyat Palestina,” ungkapnya.
Selain itu, pengakuan tersebut dinilai jadi cara untuk memberikan tekanan politik kepada Israel untuk menghentikan kekejamannya. ’’Ini memberikan harapan untuk mencapai pembentukan solusi dua negara dan yang paling penting, ini menjadi satu-satunya cara menekan Israel secara politik guna menghentikan segala bentuk kejahatannya,” sambungnya.
Retno mempertanyakan sikap beberapa negara yang mengatakan akan mengakui Palestina pada saat yang tepat, tapi belum juga terlaksana. Dia mengatakan, jangan sampai waktu yang tepat itu terjadi ketika semua rakyat Palestina kehilangan tempat tinggalnya, bahkan kehilangan nyawa.
’’Lalu, kapan waktu tepat itu? Untuk saya, waktu yang tepat adalah sekarang!” tegasnya.
Sementara itu, dalam pidatonya, Netanyahu mengaku sempat berencana tidak menghadiri SMU Ke-79 PBB tersebut. Tapi, dia akhirnya memutuskan hadir untuk menyampaikan bahwa pihaknya ingin mencari perdamaian. ’’Saya memutuskan datang, berbicara atas nama rakyat saya, berbicara atas nama negara saya. Untuk berbicara atas nama kebenaran. Dan inilah kebenarannya bahwa Israel mencari perdamaian, Israel mendambakan perdamaian. Israel telah berdamai dan akan berdamai kembali,” katanya.
Pernyataan itu kontradiktif lantaran dalam kesempatan yang sama, dia bahkan bersumpah akan terus melakukan serangan terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon sampai tujuannya tercapai. Dia berkilah, hal itu dilakukan lantaran pihaknya tidak punya pilihan lain selama kelompok Hizbullah memilih untuk perang.
’’Selama Hizbullah memilih jalan perang, Israel punya hak penuh untuk menyingkirkan ancaman ini dan mengembalikan warga kami ke rumah mereka dengan aman,” ungkapnya, dikutip dari AFP.
Di kesempatan terpisah, Israel mengklaim telah membunuh pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah. Pernyataan tersebut dilontarkan seusai serangan udara besar-besaran di daerah padat penduduk di Beirut pada Jumat (27/9) malam.
’’Hassan Nasrallah telah tewas. Sebagian besar pemimpin senior Hizbullah telah tersingkir,’’ ujar Juru Bicara militer Israel (IDF) Nadav Shoshani melalui X kemarin (28/9), dilansir dari Al Jazeera.
Hizbullah membenarkan bahwa pemimpinnya terbunuh dalam serangan Israel pada Sabtu malam. Meski demikian, mereka menegaskan bahwa perang melawan pasukan Zionis tidak akan berhenti.
Nasrallah telah memimpin Hizbullah selama lebih dari 32 tahun. Pria 64 tahun itu dikenal sebagai pemimpin politik dan spiritual Hizbullah. Nasrallah sering mendapat pujian karena keberaniannya menentang Israel dan AS. Namun, bagi para musuhnya, dia adalah kepala organisasi teroris dan perwakilan Iran dalam perebutan pengaruh di Timur Tengah.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyatakan bahwa Israel tidak pernah benar-benar bisa menghancurkan struktur kuat yang dibangun Hizbullah. Khamenei juga mendesak umat Islam di seluruh dunia untuk mendukung Hizbullah dalam menghadapi Israel. ’’Dengan rahmat Tuhan, Lebanon akan membuat musuh menyesali tindakan mereka,’’ tegasnya. (mia/dee/c7/oni)
Editor : A'an