JAKARTA – Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) bergerak cepat merespons eskalasi di Lebanon yang kian panas. Proses evakuasi puluhan warga negara Indonesia (WNI) sukses digelar dengan aman. Proses evakuasi dimulai Agustus lalu.
Saat itu, banyak WNI yang menolak mentah-mentah untuk dievakuasi. Hanya 25 orang yang bersedia dan saat ini sudah tiba di Indonesia. Mereka dipulangkan dalam tiga tahap, yakni mulai 10, 18, dan 28 Agustus.
’’Kita lakukan evakuasi melalui jalur udara dan alhamdulillah 25 WNI tersebut sudah tiba di Indonesia dengan selamat,’’ ujar Direktur Perlindungan WNI Kemenlu, Judha Nugraha dalam press briefing Kemenlu secara hybrid, kemarin (4/10).
Upaya evakuasi masih berlanjut. Kemenlu dan KBRI Beirut kembali melakukan pertemuan secara virtual dengan seluruh WNI di Lebanon pada 29 September. Pendekatan persuasif terus digencarkan, apalagi setelah tewasnya pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah.
Gayung pun bersambut. Sebanyak 40 WNI bersedia dievakuasi sehingga total menjadi 65 orang. ’’Kami sampaikan update situasi terakhir. Kami sampaikan perkiraan kabar ke depan dan bahwa this is time for us to leave Lebanon,’’ ungkapnya.
Selain 40 WNI tersebut, lanjut dia, ada satu warga negara asing (WNA) yang ikut dalam rombongan. Satu WNA itu merupakan pasangan dari salah satu WNI. Evakuasi digelar lewat jalur darat, yakni menuju Amman, Yordania. Dari sana, mereka akan diterbangkan ke tanah air.
Lebanon Balas Serangan Israel
Sementara itu, situasi di Timur Tengah semakin memanas setelah Iran menyerang Israel sebagai pembalasan atas apa yang dilakukan Negeri Zionis itu selama ini. Kekhawatiran terjadinya perang regional pun semakin memuncak. Salah satu buktinya, militer Lebanon kemarin (3/10) untuk kali pertama membalas serangan Israel setelah personel mereka kembali menjadi korban.
’’Seorang tentara meninggal setelah Israel menarget pos tentara di area Bint Jbeil di (Lebanon) selatan dan personel di pos tersebut membalas ke asal serangan,” bunyi pernyataan resmi militer Lebanon, seperti dikutip AFP kemarin. Itu merupakan korban tewas kedua di militer Lebanon akibat serangan Israel.
Respons pertama terhadap serangan Israel sejak Oktober tahun lalu itu, kata seorang pejabat militer Lebanon yang identitasnya dirahasiakan, dilakukan karena serangan Negeri Zionis tersebut ’’langsung” mengarah ke pos tentara.
Serangan udara terbaru yang diluncurkan rezim Zionis di Lebanon telah menutup rute evakuasi penting antara Lebanon dan Suriah.
Pendudukan Israel semakin agresif terhadap Lebanon, menargetkan Lembah Bekaa, Baalbek-Hermel, Lebanon Selatan, pinggiran selatan Beirut serta jalan yang menghubungkan perbatasan antara Lebanon dan Suriah di penyeberangan Masnaa dan Jdeidet Yabous. Demikian menurut laporan jaringan berita Al Mayadeen yang berbasis di Beirut, kemarin.
Akibatnya, lalu lintas antara Suriah dan Lebanon terhenti di kedua arah.
Serangan Israel juga mengenai Kota Nabi Shayth di Bekaa, timur Lebanon, dan menyasar dataran tinggi Janta. Di wilayah Selatan, pesawat tempur juga menyerang Kota Aitat.
Rezim zionis melancarkan serangan udara besar-besaran sejak 23 September, yang katanya menargetkan lokasi Hizbullah di seluruh Lebanon. Akibatnya, lebih dari 1.100 orang tewas dalam aksi tersebut.
Kelompok Hizbullah pun membalas perbuatan Israel dengan meluncurkan berbagai serangan terhadap posisi Israel di wilayah pendudukan utara. Dalam beberapa hari terakhir, Hizbullah juga menembakkan ratusan roket yang menargetkan posisi-posisi vital Israel.
Analis dari Universitas Northwestern di Qatar, Marc Owen Jones mengatakan, jika Israel benar-benar memilih meningkatkan eskalasi, Iran dan sekutu utama Israel, Amerika Serikat bakal otomatis terseret. Ada tiga target yang diperkirakan Jones bakal menjadi sasaran Israel. Pertama, landasan peluncuran rudal dan pusat militer.
Kedua, mengincar aset vital seperti pembangkit listrik sehingga ekonomi Iran kocar-kacir. Terakhir, pusat nuklir. Iran diketahui menimbun uranium lebih dari 20 persen dari yang dibutuhkan untuk tenaga nuklir.
Dolar AS Kembali Menguat
Konflik Timur Tengah berdampak terhadap menguatnya dolar Amerika Serikat alias USD. Selan itu, para investor juga mengantisipasi langkah-langkah yang lebih dovish dari bank sentral di Eropa, Inggris, dan Jepang, yang turut mendukung mata uang AS.
Indeks USD, yang mengukur mata uang AS terhadap enam mata uang lainnya, terakhir berada di 101,85. Angka itu naik sekitar 1,5 persen selama sepekan ini. Dan, juga performa terbaiknya sejak April.
“Dalam beberapa minggu terakhir, ada pemikiran ulang bahwa bukan hanya tentang Federal Reserve. Bank sentral lainnya juga memangkas (suku bunga) dan beberapa di antaranya mungkin memangkas dengan lebih cepat, dan ini menguntungkan dolar (USD),” kata Paul Mackel, kepala riset FX HSBC yang dikutip Reuters kemarin (4/10).
Perhatian utama pasar akan tertuju pada laporan non-pertanian di AS, setelah data tenaga kerja AS menunjukkan tren positif menjelang akhir kuartal ketiga. Ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan penambahan 140 ribu pekerjaan, sementara tingkat pengangguran diperkirakan tetap stabil di 4,2 persen.
“Kebanyakan indikator pasar tenaga kerja minggu ini menunjukkan hasil yang kuat, sehingga risiko seimbang mengarah pada kemungkinan pelonggaran lebih agresif di AS yang semakin kecil,” kata Geoffrey Yu, kepala strategi pasar EMEA di BNY.
Pasar sedang menghadapi gambaran ekonomi AS yang membaik dan nada lebih hawkish dari Gubernur Federal Reserve Jerome Powell, yang mengurangi harapan bahwa bank sentral akan melakukan pemotongan suku bunga besar-besaran bulan depan.
“Titik manis untuk pasar adalah angka pengangguran yang sesuai dengan ekspektasi dan laporan pekerjaan yang sedikit lebih tinggi dari konsensus,” kata Chief Economist Jefferies Europe Mohit Kumar. (lyn/mia/ant/bay)
Editor : Miftahul Khair