PARIS – Bahaya kerusakan iklim yang memicu kenaikan suhu global sudah dirasakan manusia. Tahun 2024 menjadi buktinya. Berdasar data Layanan Perubahan Iklim Copernicus (C3S), kenaikan suhu pada 2024 mencapai 1,6 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri.
Angka kenaikan suhu tersebut sudah melewati batas target 1,5 derajat Celsius yang disepakati dalam Perjanjian Paris. Itu adalah lonjakan 0,1 derajat Celsius dari 2023, yang juga merupakan tahun terpanas yang belum pernah dialami oleh manusia modern.
Dilansir dari The Guardian, kemarin (10/1), situasi itu terjadi akibat pembakaran bahan bakar fosil, terutama batu bara, minyak, dan gas. Situasi tersebut berdampak pada kehidupan dan mata pencaharian manusia.
Target Perjanjian Paris sebesar 1,5 derajat Celsius diukur selama satu atau dua dekade. Peristiwa di 2024 tidak berarti target telah dilanggar, tetapi menunjukkan darurat iklim terus meningkat. Kondisi itu sudah terlihat dalam 10 tahun terakhir. Sejak pencatatan suhu dimulai pada 1850, situasi di 2014–2024 menjadi momen terpanas sepanjang sejarah.
’’Sekarang ada kemungkinan yang sangat tinggi bahwa kita akan melampaui rata-rata jangka panjang 1,5 derajat Celsius dalam batas Perjanjian Paris,’’ kata Dr Samantha Burgess, wakil direktur C3S.
Data C3S juga menunjukkan rekor 44 persen planet ini terkena tekanan panas yang kuat hingga ekstrem pada 10 Juli 2024. Tercatat hari terpanas dalam sejarah terjadi pada 22 Juli.
’’Suhu global yang tinggi ini, ditambah dengan rekor tingkat uap air atmosfer global pada 2024, berarti gelombang panas yang belum pernah terjadi sebelumnya dan peristiwa hujan lebat yang menyebabkan kesengsaraan bagi jutaan orang,’’ kata Dr Friederike Otto dari Imperial College London.
Menurut Otto, rangkaian cuaca ekstrem selama 2024 menunjukkan betapa berbahayanya kehidupan pada kenaikan suhu 1,5 derajat Celsius. ’’Banjir Valencia, badai AS, topan Filipina, dan kekeringan Amazon hanyalah empat bencana tahun lalu yang diperburuk oleh perubahan iklim. Masih banyak lagi,’’ ujarnya mencontohkan.
Otto menambahkan, dunia tahu persis upaya untuk menghentikan kenaikan suhu. Yakni, segera beralih dari bahan bakar fosil, menghentikan penggundulan hutan, dan membuat masyarakat lebih tangguh.
Saat ini belum ada tanda-tanda transisi dari bahan bakar fosil yang dijanjikan oleh negara-negara di dunia. Hal itu terlihat pada konferensi iklim PBB di Dubai, Desember 2023. Dunia kini berada di ambang menuju pemanasan global 2,7 derajat Celsius yang dahsyat pada akhir abad ini.
Peluang besar berikutnya untuk bertindak dan berubah berada di Februari 2024. Yakni, ketika negara-negara harus menyerahkan janji pemotongan emisi baru kepada PBB.
Emisi bahan bakar fosil harus turun hingga 45 persen pada 2030. Tujuannya, muncul peluang untuk membatasi pemanasan hingga 1,5 derajat Celsius. (*/c6/bay)
Editor : Miftahul Khair