PONTIANAK POST - Di Gedung Putih, Amerika Serikat, Volodymyr Zelensky boleh “di-roasting” Donald Trump. Tapi, di Eropa, presiden Ukraina itu justru disambut hangat.
Kalau Trump menuding Zelensky belum siap berdamai dengan Rusia, di Paris, Presiden Prancis Emmanuel Macron tegas menyebut Presiden Rusia Vladimir Putin-lah yang patut disalahkan. Di Berlin, Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock juga mendesak parlemen negaranya menyetujui tambahan bantuan sebesar 3 miliar Euro kepada Ukraina.
Sedangkan di Downing Street 10, kantor dan kediaman resmi Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer menyambut langsung dan memeluk hangat Zelensky yang datang berkunjung. “Anda sangat diterima di Downing Street,” ujar Starmer, dikutip dari AFP kemarin (2/3).
Prancis, Jerman, dan Inggris adalah sekutu dekat AS di Eropa. Ketiganya juga anggota NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara) yang dipandegani AS.
Pernyataan Starmer itu seperti sindiran keras kepada Trump dan Wakil Presiden J.D Vance yang bertengkar dengan Zelensky dalam sebuah pertemuan terbuka di Ruang Oval, Gedung Putih, Washington DC (28/2). Trump bahkan kemudian mengusir Zelensky dari Gedung Putih.
Baca Juga: Ramadan Menguatkan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat
Beri Pinjaman
Tak hanya menyambut hangat, Inggris juga kembali memberikan pinjaman kepada Ukraina sebesar USD 2,84 miliar. “Dana itu akan digunakan untuk produksi senjata di Ukraina,” kata Zelensky melalui X.
Pertemuan Starmer dan Zelensky berlangsung tertutup selama 75 menit. "Sekarang saatnya bersatu guna menjamin hasil terbaik bagi Ukraina, melindungi keamanan Eropa, dan mengamankan masa depan bersama," kata Starmer seusai pertemuan pada Sabtu malam (1/2) waktu London itu.
Meski menolak meminta maaf atas apa yang terjadi di Gedung Putih, Zelensky menekankan dukungan AS tetap penting. "Sangat penting bagi kami untuk mendapatkan dukungan Presiden Trump. Dia ingin mengakhiri perang, tetapi tidak seorang pun menginginkan perdamaian lebih dari kami," tulis Zelensky di X.
AS negara donor terbesar kepada Ukraina, disusul Inggris. Karena itu, sebenarnya Eropa juga khawatir dengan ketegangan di Ruang Oval tersebut. Sekjen NATO Mark Rutte, misalnya, mendesak Zelensky menemukan cara untuk memperbaiki hubungan dengan Trump.
Baca Juga: Pascakasus Korupsi Pertamina, Erick Thohir Gelar Evaluasi Besar dan Kaji Merger Anak Usaha
Rusia Girang
Moskow tentu saja girang dengan pertengkaran Trump dan Zelensky. Mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev menyebut Zelensky telah menerima tamparan keras di Ruang Oval.
“Babi yang tidak tahu terima kasih mendapat tamparan keras dari para pemilik kandang babi,” kata Medvedev yang juga wakil ketua Dewan Keamanan Rusia itu.
Tapi, di negara yang dia pimpin, Zelensky mendapat dukungan luas. Pejabat senior Ukraina mengatakan bahwa tanpa janji keamanan yang berarti, kesepakatan gencatan senjata dengan Moskow seperti yang diinginkan Trump tidak akan bertahan lama.
“Jebakan Putin lainnya gagal. Rasa hormat kepada presiden atas keberaniannya menyebut sesuatu dengan nama yang tepat dan membela kehormatan rakyat kami,” kata Wakil Perdana Menteri Ukraina Mykhailo Fedorov seperti dikutip dari The Guardian. (lyn/ttg)
Editor : A'an