- Semua Mitra Dagang AS Kena Pajak Resiprokal
- Tiongkok Mengecam, Prancis Siapkan Aksi Balasan
PONTIANAK POST – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali membuat kebijakan kontroversial. Dia mematok tarif impor tinggi untuk produk dari sejumlah negara yang masuk ke AS.
Trump bahkan memberlakukan tarif resiprokal atau imbal balik pada negara-negara mitra dagangnya, termasuk Indonesia. Kebijakan itu membuat sejumlah negara menyiapkan aksi balasan. Mereka bersiap menaikkan tarif untuk produk-produk AS yang masuk.
Bertempat di Taman Mawar Gedung Putih, Trump menabuh genderang perang kepada ekonomi global pada 2 April waktu AS. ’’Tanggal 2 April 2025 akan selalu dikenang sebagai hari ketika industri Amerika terlahir kembali, hari ketika takdir Amerika diperjuangkan kembali, dan hari ketika kita mulai membuat Amerika menjadi kaya kembali,’’ ujarnya dilansir dari AFP.
Dalam pidato yang berapi-api, Trump berjanji membawa AS kembali ke jalur yang benar. Dia mengklaim bahwa kebijakan perdagangan yang diterapkan selama ini telah merugikan negara tersebut. ’’Selama beberapa dekade, Amerika telah dijarah, dirampok, dan diperkosa oleh mitra dagangnya. Ini tidak akan terjadi lagi,’’ tegasnya.
Trump menggambarkan hari bersejarah itu sebagai momen untuk mengenakan tarif resiprokal. Dia mengenakan tarif dasar minimum 10 persen untuk seluruh mitra dagangnya serta tarif tambahan yang bisa disebut sebagai hukuman untuk negara-negara tertentu yang dianggapnya menipu AS, termasuk Tiongkok, Uni Eropa, dan Taiwan.
’’Tiongkok mengenakan biaya 67 persen pada kami, kami akan mengenakan biaya 34 persen. Uni Eropa mengenakan biaya 39 persen, sekarang kami akan mengenakan biaya 20 persen,’’ kata Trump sambil menunjukkan grafik yang menggambarkan ketidakadilan tarif yang dikenakan terhadap AS.
Trump menyebutkan, kebijakan tarif ini bertujuan untuk mengembalikan kekuatan industri manufaktur AS. Dia juga menggarisbawahi bahwa kebijakan tersebut akan menghidupkan kembali ekonomi domestik dan meningkatkan lapangan pekerjaan. ’’Kami akan memberikan pertumbuhan yang belum pernah Anda lihat sebelumnya,’’ tambahnya. Itu selaras dengan jargon yang diyakininya akan mengembalikan masa keemasan AS: Make America Great Again atau Make America Wealthy Again.
Di tengah pidatonya, Trump juga membanggakan keberhasilan kebijakan tarif sebelumnya. Salah satunya tarif tambahan pada impor baja dan aluminium serta tarif 20 persen untuk impor energi dari Kanada. Dia berpendapat bahwa tarif-tarif ini telah memengaruhi kebijakan perdagangan negara-negara lain. Selain itu, memberi posisi tawar yang lebih kuat bagi AS dalam perundingan perdagangan internasional.
Baca Juga: Indonesia Kirim 124 Ton Bantuan untuk Korban Gempa Myanmar: Obat-obatan dan Sarung Disalurkan
Tindakan Balasan
Kebijakan Trump ini memicu reaksi dari berbagai negara. Para pemimpin Eropa mengecam kebijakan anyar ini dan menyiapkan tindakan balasan sembari membuka peluang untuk negosiasi ulang. ’’Pungutan ini merupakan pukulan besar bagi ekonomi dunia,’’ kata Kepala Uni Eropa Ursula von der Leyen. Leyen juga optimistis akan ada peluang untuk negosiasi. Tujuannya tentu agar tidak terjadi kegaduhan untuk menanggapi dampak dari kebijakan ini.
Juru Bicara Pemerintah Prancis Sophie Primas mengatakan, Presiden Emmanuel Macron akan bertemu dengan kepala sektor yang terdampak kebijakan tarif AS ini. ’’Kami siap untuk perang dagang dan berencana menyerang layanan daring,’’ ungkapnya.
Tiongkok juga menentang kebijakan Trump ini. Melalui Kementerian Perdagangan, pemerintah Tiongkok menyebut AS tidak mematuhi aturan perdagangan internasional. Mereka mendesak Gedung Putih untuk membatalkan kebijakan ini. (dee/lyn/oni)
Editor : Hanif