Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Mengenal Konklaf: Pemilihan Paus dalam Keheningan dan Doa

Miftahul Khair • Kamis, 8 Mei 2025 | 14:35 WIB
Kopiah merah atau zucchetto yang dikenakan oleh para kardinal saat prosesi konklaf. 
Kopiah merah atau zucchetto yang dikenakan oleh para kardinal saat prosesi konklaf. 

PONTIANAK POST - Pemilihan Paus baru dalam Gereja Katolik adalah sebuah prosesi yang sangat sakral. Dikenal sebagai konklaf, prosedur ini dijalankan dengan penuh ketat dan dalam keadaan tertutup.

Kata "konklaf" berasal dari bahasa Latin cum clave, yang berarti “dengan kunci,” menggambarkan suasana yang tertutup dan penuh rahasia selama proses berlangsung.

Hanya kardinal yang berusia di bawah 80 tahun yang berhak mengikuti konklaf, yang disebut sebagai kardinal elektor.

Pada konklaf 2025, terdapat 133 kardinal dari berbagai negara yang berhak memberikan suara, termasuk Kardinal Ignatius Suharyo dari Indonesia.

Jumlah ini melebihi batas ideal yang ditetapkan Gereja, yaitu 120 kardinal, namun hal tersebut masih diperbolehkan oleh otoritas Takhta Suci.

Proses konklaf dimulai setelah Paus wafat, ketika Gereja memasuki masa sede vacante atau kekosongan Tahta Suci.

Para kardinal kemudian berkumpul di Vatikan untuk menjalani rangkaian kegiatan rohani, termasuk Misa khusus yang bertujuan untuk memohon petunjuk Roh Kudus dalam memilih Paus baru.

Semua kegiatan konklaf dilaksanakan di Kapel Sistina, sebuah tempat yang sangat bersejarah dengan langit-langit yang dilukis oleh Michelangelo.

Setelah memasuki kapel, para kardinal dikunci rapat-rapat dari dunia luar. Mereka tidak diperbolehkan berkomunikasi dengan siapa pun di luar konklaf, dan segala bentuk akses informasi seperti ponsel dan internet sepenuhnya diblokir untuk menjaga kerahasiaan serta keabsahan proses pemilihan.

Setiap hasil pemungutan suara akan diumumkan melalui asap yang keluar dari cerobong Kapel Sistina.

Jika Paus belum terpilih, asap hitam akan muncul. Namun, jika Paus sudah terpilih, asap putih akan mengepul, menandakan bahwa Gereja Katolik telah menemukan pemimpin barunya.

Konklaf bukan sekadar sebuah prosedur administratif, tetapi juga momen spiritual yang sangat penting bagi umat Katolik di seluruh dunia. Dalam keheningan dan doa, para kardinal memilih pemimpin tertinggi Gereja yang diharapkan dapat membimbing umat dalam iman, harapan, dan kasih. (mif)

Editor : Miftahul Khair
#Konklaf #kapel sistina #pemilihan paus