PONTIANAK POST – Kapal Madleen yang sedang menjalankan misi kemanusiaan ke Jalur Gaza, Palestina, dilaporkan dicegat oleh pasukan militer Israel di perairan internasional pada Minggu (2/6). Koalisi Freedom Flotilla menyebut para relawan di atas kapal telah ditangkap.
"SOS! Para relawan di kapal 'Madleen' telah diculik pasukan Israel," tulis Koalisi Freedom Flotilla melalui Telegram.
Sementara itu, Pelapor Khusus PBB untuk wilayah Palestina, Francesca Albanese, yang sempat berkomunikasi langsung dengan nakhoda kapal menyampaikan bahwa tidak ada korban luka dalam insiden tersebut.
"Sang nakhoda meminta saya merekam," ungkap Albanese. Ia menambahkan bahwa suara tentara Israel sempat terdengar sebelum sambungan mereka terputus.
"Koneksi saya dengan nakhoda terputus saat ia memberitahu saya bahwa ada kapal lain yang mendekat."
Koalisi Freedom Flotilla mengonfirmasi bahwa kapal Madleen dikepung dan kemudian dinaiki oleh pasukan Israel. Insiden tersebut terjadi ketika kapal masih berada di zona perairan internasional.
Cuplikan siaran langsung dari atas kapal memperlihatkan tentara Israel mengarahkan senjata dan memerintahkan para relawan untuk mengangkat tangan.
Kementerian Luar Negeri Israel mengklaim bahwa Madleen telah diperintahkan untuk mengubah jalur karena mendekati wilayah yang mereka sebut sebagai "zona terlarang".
Misi kemanusiaan yang digagas Freedom Flotilla bertujuan untuk menembus blokade Israel terhadap Gaza dan mengantarkan bantuan penting. Kapal Madleen, sepanjang 18 meter, berlayar dari Pelabuhan San Giovanni Li Cuti, Catania, Italia, sejak 1 Juni.
Kapal itu membawa barang-barang mendesak bagi masyarakat Gaza, seperti susu bayi, tepung, beras, popok, obat-obatan, alat medis, pemurni air, kruk, hingga alat bantu gerak prostetik untuk anak-anak.
Dalam pelayaran tersebut, terdapat 12 penumpang: 11 aktivis dan 1 jurnalis. Beberapa di antaranya adalah nama-nama yang cukup dikenal secara global, seperti aktivis iklim Swedia Greta Thunberg, anggota Parlemen Eropa berdarah Prancis-Palestina Rima Hassan, dan jurnalis Al-Jazeera Mubasher asal Prancis Omar Faiad.
Turut serta juga aktivis dari berbagai negara lainnya: Yasemin Acar (Jerman), Baptiste Andre, Pascal Maurieras, Yanis Mhamdi, dan Reva Viard (Prancis), Thiago Avila (Brasil), Suayb Ordu (Turki), Sergio Toribio (Spanyol), serta Marco van Rennes (Belanda). (mif/ant)
Editor : Miftahul Khair