Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Situasi Memanas di LA, Dua WNI Ditangkap ICE Amerika Serikat

Hanif PP • Selasa, 10 Juni 2025 | 11:02 WIB
Mahasiswa di Los Angeles demo dan memprotes kebijakan Trump
Mahasiswa di Los Angeles demo dan memprotes kebijakan Trump

PONTIANAK POST – Di tengah masih memanasnya situasi di Los Angeles (LA), California, seorang warga negara Indonesia (WNI) ditangkap Badan Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) Amerika Serikat (AS). Pria 48 tahun itu disebut memiliki catatan kriminal terkait narkoba, mengemudi dalam keadaan mabuk, serta memasuki AS secara ilegal.

Mengutip laist.com, dalam rilis Kementerian Keamanan Dalam Negeri yang membawahi ICE pada Minggu (8/6), tidak disebutkan kapan Chrissahdah Tooy (CT), WNI tersebut, ditangkap. Yang pasti, ia ditangkap bersama 11 orang lain dan dikategorikan sebagai “worst of the worst” (terburuk dari yang terburuk) dari semua yang ditangkap di LA.

Ada sekitar 14 ribu WNI di LA, jumlah terbesar dibandingkan semua kota di AS. Selain CT, seorang WNI lainnya, ESS, perempuan 53 tahun, juga ditangkap. Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri Judha Nugraha mengamini kabar tersebut. Menurutnya, KJRI Los Angeles telah menerima informasi terkait penahanan mereka.

Dari keterangan yang diperoleh, ESS ditangkap karena berstatus ilegal. “KJRI Los Angeles saat ini sedang berkoordinasi dengan otoritas setempat untuk akses pendampingan kekonsuleran bagi kedua WNI tersebut,” tutur Judha di Jakarta, Senin (9/6).

Adapun bagi WNI yang memiliki rencana perjalanan ke AS, Judha meminta agar betul-betul dipastikan penggunaan visanya. Visa harus valid dan sesuai peruntukannya.

 

Tak Peduli Ditangkap

Di sisi lain, “api peperangan” antara Kota Los Angeles dan Negara Bagian California dengan pemerintah federal yang berpusat di Gedung Putih, Washington DC, terus membara. Bentrokan antara demonstran dan aparat kembali terjadi di sejumlah titik.

Kepala ICE Tom Homan juga mengancam akan memenjarakan Gubernur California Gavin Newsom karena dianggap menghalangi penegakan hukum oleh ICE. Newsom malah menantang balik. “Datangi saya, tangkap saya, mari kita selesaikan ini, pria jagoan,” kata Newsom kepada MSNBC, merespons ancaman Homan. “Saya tidak peduli, tapi saya peduli dengan warga saya,” lanjutnya.

 

Wilayah Multietnis

LA, baik sebagai kota maupun county (semacam karesidenan di tata pemerintahan lama Indonesia, terdiri atas himpunan beberapa kota, Red), adalah wilayah yang multietnis. Isu ras sangat sensitif di sini. Tak heran, penangkapan ratusan orang oleh ICE sejak Jumat (6/6) langsung memicu perlawanan.

Apalagi, yang ditangkapi di Chinatown, Fashion District, Paramount, dan Compton mayoritas merupakan keturunan Latin, ras mayoritas di LA. Sampai dengan Sabtu (7/6), ICE menangkap sebanyak 118 orang, sebagian dengan cara yang dianggap tidak manusiawi.

Amarah warga semakin meningkat setelah Trump mengerahkan Garda Nasional ke LA. The Guardian melaporkan, warga yang marah membanjiri jalan-jalan di pusat kota. Lalu lintas di jalan bebas hambatan menjadi macet. Mobil-mobil pengangkut personel Garda Nasional bahkan dikepung warga.

“Kami tidak takut padamu,” seru John Parker, salah satu pendemo, melalui pengeras suara.

Para demonstran melontarkan kecaman terhadap Trump dan aparat penegak hukum imigrasi atas penangkapan massal imigran. LAPD (Kepolisian LA) merespons dengan melarang semua titik di Kota LA sebagai tempat berkumpulnya massa.

 Dukungan Pemimpin

Aksi warga itu mendapat dukungan dari Wali Kota LA Karen Bass dan Gubernur California Gavin Newsom. Mereka kompak menuding Trump memperburuk keadaan melalui penggerebekan imigran dan keputusan yang tidak lazim dengan mengerahkan Garda Nasional.

“Kami tidak punya masalah sampai Trump terlibat. Keputusan yang ceroboh dan amoral,” kata Newsom.

Karena itu, Pemerintah Negara Bagian California akan menggugat ke pengadilan pengerahan Garda Nasional. Menurut Newsom, langkah tersebut melanggar konstitusi. “Donald Trump harus menarik pasukan. Dia harus mengalah,” katanya.

Trump menjadi presiden pertama yang menggunakan kekuasaannya untuk mengerahkan Garda Nasional melawan rakyatnya sendiri. Terakhir terjadi pada kerusuhan di Los Angeles tahun 1992.

Meski dikecam keras, Trump tetap meneruskan kebijakan agresifnya. “Jangan biarkan para penjahat itu bebas... tangkap orang yang memakai penutup wajah, sekarang,” tulis Trump di akun media sosialnya, seperti dikutip The Guardian.

Warga 12 Negara Dilarang Masuk AS

Di tengah ketegangan domestik, per kemarin, Trump memberlakukan larangan bagi warga dari 12 negara untuk masuk ke AS. Dikutip dari AFP, negara-negara yang tercakup dalam larangan itu adalah Afghanistan, Myanmar, Chad, Kongo-Brazzaville, Guinea Ekuatorial, Eritrea, Haiti, Iran, Libya, Somalia, Sudan, dan Yaman.

Selain itu, pembatasan sebagian juga diberlakukan terhadap warga Burundi, Kuba, Laos, Sierra Leone, Togo, Turkmenistan, dan Venezuela. Visa kerja sementara masih diperbolehkan.

Trump menyatakan, larangan itu diberlakukan sebagai respons atas serangan terhadap komunitas Yahudi di Colorado, AS. “Serangan itu menegaskan bahaya ekstrem yang mengancam negara kita akibat masuknya warga negara asing yang tidak diperiksa dengan benar,” ujarnya.

Meski begitu, larangan tidak berlaku untuk atlet yang akan bertanding dalam Piala Dunia 2026 yang akan dituanrumahi AS bersama Kanada dan Meksiko, serta Olimpiade Los Angeles 2028. Para diplomat dari negara-negara terdampak juga dikecualikan dari kebijakan itu.(lyn/ttg)

Demografi Los Angeles

Data per 1 Juni 2024

Jumlah penduduk: 3.878.704 jiwa

Kulit putih 37,3%

Kulit hitam 8,5%

Indian Amerika dan penduduk asli Alaska 1,2%

Asia 12,0%

Penduduk asli Hawaii dan Kepulauan Pasifik lainnya 0,1%

Dua ras atau lebih 15,7%

Hispanik atau Latino 47,2%

Kulit putih saja, bukan Hispanik atau Latino 28,3%

 

Sumber: www.census.gov

Editor : Hanif
#ice #los angeles #ditangkap #california #wni #amerika serikat #la #demo