PONTIANAK POST - Israel dilaporkan telah menyampaikan kepada pejabat Amerika Serikat bahwa mereka sepenuhnya siap untuk melakukan aksi militer terhadap Iran. Hal ini disampaikan CBS News pada Kamis, mengutip beberapa sumber yang mengetahui perkembangan situasi.
Washington disebut memperkirakan bahwa Iran akan melakukan aksi balasan yang menyasar fasilitas milik AS di Irak, negara tetangga Iran. Kekhawatiran ini disebut sebagai alasan utama Amerika menyarankan sejumlah warganya untuk segera meninggalkan kawasan tersebut pada Rabu (11/5).
Meski demikian, pejabat Israel memilih tidak memberikan komentar mengenai kemungkinan serangan militer ke Iran.
Sementara itu, pada Selasa (10/6), media Axios melaporkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah melakukan komunikasi lewat sambungan telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Baca Juga: Situasi Memanas di LA, Dua WNI Ditangkap ICE Amerika Serikat
Dalam percakapan itu, Trump menyatakan masih ada peluang untuk menuntaskan negosiasi terkait kesepakatan nuklir Iran dan menyatakan keberatan atas opsi militer saat ini.
Di sisi lain, Misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menekankan pentingnya jalur diplomatik untuk menyelesaikan konflik dan menolak pendekatan militer.
Pernyataan itu disampaikan pada Rabu (11/6), sebagai tanggapan atas pernyataan Kepala Komando Pusat AS (CENTCOM) dalam sidang DPR AS.
"Ancaman 'kekuatan yang luar biasa' tidak akan mengubah fakta: Iran tidak mencari senjata nuklir, dan militerisme AS hanya memicu ketidakstabilan," kata Misi Iran di PBB dalam sebuah pernyataan yang dibagikan di X.
Mereka juga menyatakan bahwa CENTCOM tidak memiliki legitimasi dalam urusan perdamaian kawasan dan nonproliferasi, serta menuding bahwa peran CENTCOM hanya memperkeruh stabilitas kawasan dengan mendukung agresor dan memungkinkan kekerasan oleh Israel.
"Warisan CENTCOM dalam memicu ketidakstabilan regional, melalui persenjataan agresor dan memungkinkan kejahatan Israel, menghilangkan kredibilitasnya untuk berbicara tentang perdamaian atau nonproliferasi," lanjut pernyataan tersebut.
Iran tetap menegaskan bahwa solusi utama untuk mengatasi konflik adalah melalui pendekatan diplomatik, bukan kekuatan militer.
Pernyataan ini merespons kesaksian Jenderal Michael Kurilla, Kepala CENTCOM, dalam sidang DPR AS pada Selasa (10/6), ketika dia mendapat pertanyaan langsung dari Ketua DPR Mike Rogers.
"Presiden (Donald) Trump telah menjelaskan bahwa jika Iran tidak menghentikan pengayaan nuklir secara permanen, kekuatan militer oleh AS mungkin akan diperlukan. Jika presiden mengarahkan, apakah CENTCOM siap untuk menanggapi dengan kekuatan yang sangat besar untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir?" tanya Rogers.
"Saya telah memberikan menteri pertahanan dan presiden berbagai pilihan," jawab Kurilla. Saat ditekan lebih lanjut, Kurilla menegaskan "Ya." (mif/ant)
Editor : Miftahul Khair