Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Daya Tahan Iran Jangan Disepelekan, AS Pertimbangkan Bantuan ke Israel

Hanif PP • Sabtu, 21 Juni 2025 | 13:38 WIB
PRESIDEN AS, DONALD TRUMP
PRESIDEN AS, DONALD TRUMP

PONTIANAK POST - Amerika Serikat (AS) bakal menentukan sikap dalam dua pekan apakah akan terjun langsung membantu Israel menggempur Iran. Analis menilai, dengan kemampuan Iran memproduksi rudal dan mulai menipisnya stok misil pencegat dalam sistem pertahanan udara Israel, negeri yang beribu kota di Teheran itu bisa berada di atas angin.

Bakal ikut atau tidaknya AS menggempur Iran sepertinya bergantung pada satu tempat di bawah tanah, 30 kilometer sebelah utara Qom. Di sana, di bekas markas Garda Revolusi, Iran memiliki fasilitas pengayaan uranium.

Israel tak memiliki bom yang mampu menembusnya. Hanya Amerika Serikat yang punya: bunker buster (lihat grafis). Tapi, Presiden AS Donald Trump belum sepenuhnya yakin untuk terlibat dalam perang yang bahkan ditentang rakyatnya sendiri.

“Saya akan mengambil sikap dalam dua pekan,” kata Trump, seperti dikutip dari AFP (19/6).

Kalau AS betul-betul akan membantu sekutu terdekatnya itu, jelas akan menyulitkan Iran. Mereka memang punya sekutu regional yang dikenal sebagai Poros Perlawanan: mulai Hamas di Gaza, Hizbullah di Lebanon, milisi di Irak, sampai Houthi di Yaman.

Tapi, Hamas dan Hizbullah sedang terpojok setelah digempur habis oleh Israel. Milisi di Irak tak begitu besar kekuatannya. Hanya Houthi yang rutin menghujani Israel dengan misil.

“Tak bisa disebut sebagai poros lagi, lebih ke jejaring renggang di mana mereka yang ada di dalamnya sibuk dengan persoalan bertahan hidup,” kata Andreas Krieg, pakar keamanan dan associate professor di King’s College London, Inggris, kepada Australian Broadcasting Corporation (ABC).

Iran sebenarnya juga bagian dari CRINK, sebuah jaringan informal yang terdiri dari China (Tiongkok), Rusia, dan Korea Utara. Tapi, sejauh ini para sekutu global Iran tersebut hanya memberikan dukungan verbal.

Tiongkok dan Korea sama-sama mengecam serangan Israel ke Iran. Hanya Rusia yang selangkah lebih maju: tak cuma mengutuk, tapi juga menawarkan diri jadi mediator.

“Iran sangat dekat dengan Rusia. Mereka memberikan bantuan drone ke Rusia dalam perang melawan Ukraina,” kata Ian Parmeter, pakar Timur Tengah di Universitas Nasional Australia sekaligus mantan duta besar Australia untuk Lebanon.

Tapi, Iran sepertinya sulit berharap Rusia bakal memberikan lebih dari bantuan diplomatik. Sebab, Presiden Rusia Vladimir Putin dikenal punya hubungan dekat dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

 

Stamina Iran

Meski tampak terpojok, jangan pernah menyepelekan stamina Iran untuk bertahan. Mereka pernah delapan tahun berperang dengan Irak yang didukung AS dan tidak kalah (tidak ada yang bisa disebut pemenang dalam perang yang berlangsung 1980–1988 itu).

Sanksi demi sanksi menekan mereka, dengan macam-macam alasan, terutama pengembangan nuklir. Tapi, mereka tetap menjadi negara pemilik rudal balistik terbesar di Timur Tengah. Sebagian di antaranya terbukti sukses menembus sistem pertahanan Iron Dome dan Arrow 3 Israel yang dikenal canggih, sejak konflik diawali pada Jumat (13/6) pekan lalu saat Tel Aviv menyerang Teheran.

Kemarin (20/6), mengutip AFP, Iran kembali menembakkan serangkaian misil ke Israel. Sirene tanda bahaya pun berbunyi di berbagai penjuru Negeri Yahudi itu.

“Tim paramedis memberikan pertolongan kepada remaja pria 16 tahun yang mengalami luka serius di bagian atas tubuhnya, dan seorang pria 54 tahun yang mengalami luka sedang di bagian bawah tubuh,” kata David Adom, anggota tim penolong di Magen Israel.

Tak seperti Netanyahu yang diguncang banyak kasus domestik, rakyat Iran juga sepenuhnya berdiri di belakang Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei. Apalagi, bukan mereka yang memulai perang dengan negara yang jaraknya ribuan kilometer itu.

Menanggapi pernyataan Trump agar Iran menyerah tanpa syarat, Khamenei, ganti mengingatkan AS agar tak ikut campur. "Amerika harus tahu, Iran tidak akan menyerah dan serangan AS dalam bentuk apa pun akan menimbulkan konsekuensi serius dan tidak dapat diperbaiki bagi Amerika,” katanya.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghci juga kembali menegaskan kesiapan negaranya untuk terus mengangkat senjata. “Amerika berkali-kali mengirim pesan ajakan untuk negosiasi. Tapi, selama agresi (Israel) tidak diakhiri, tidak ada tempat untuk diplomasi dan dialog,” katanya dalam wawancara dengan stasiun televisi pemerintah.

 

Angin Berbalik

Jumlah korban meninggal di Iran akibat serangan Israel memang jauh lebih besar ketimbang sebaliknya. Tapi, perlu diingat, misil atau rudal bisa diproduksi dengan jauh lebih cepat ketimbang sistem pertahanan udara yang canggih. Iran jelas punya kemampuan memproduksi misil.  Di sisi lain, mengutip seorang pejabat AS sebagaimana dikutip The Guardian, rudal pencegat rudal dalam sistem pertahanan udara Israel kian menipis.

“Kalau Iran bisa memaksimalkan stok rudal untuk menembak ke arah permukiman, mereka bisa berada di atas angin,” kata Fabian Hinz, analis di Institut Internasional untuk Studi Strategis.

Karena itulah, Israel terus membujuk AS untuk turun tangan membantu. Tapi, katakanlah itu benar terjadi, bukan berarti Iran bakal langsung keok dan kemudian terjadi pergantian struktur kepemimpinan seperti yang diangankan Netanyahu.

Perang delapan tahun melawan Irak yang didukung AS dan para sekutu membuktikan, napas perlawanan Iran sangat panjang. Mereka terbiasa hidup dalam tekanan dan terus melawan. (idr/ttg)

Editor : Hanif
#rudal #konflik iran dan israel #daya tahan #donald trump #iran #hamas #hizbullah #amerika serikat