PONTIANAK POST - Kalau saja Iran, kata Hu Xijin, punya belasan jet tempur J-10 serta seri rudal Hongqi, wilayah udaranya tak akan mudah digempur Israel. Apalagi, tambah Hu di akun Weibo-nya yang punya 25 juta pengikut, jika itu dilengkapi dengan level pertahanan udara seperti Pakistan.
Hu mantan editor Global Times, tabloid “kanan” milik pemerintah Tiongkok. Ia menulis unggahan tersebut setelah Israel menyerang Iran untuk kali pertama pada Jumat (16/6) pekan lalu.
Sehari berselang (17/6), entah berkaitan atau tidak dengan pernyataan Hu, seperti dilaporkan media Inggris The Telegraph dan dikutip dari Economic Times kemarin (22/6), tiga pesawat kargo Boeing 747 terbang dari wilayah Tiongkok. Mengarah ke utara, memasuki Kazakhstan, lalu berbelok ke selatan melewati Uzbekistan, sebelum kemudian hilang dari radar saat mendekati wilayah Iran.
Data penerbangan yang dikutip dari Flight Radar 24 itu pun memicu isu bahwa Tiongkok menyuplai senjata ke Iran. Apalagi, pesawat kargo 747 biasanya memang digunakan mengangkut peralatan militer hasil jual beli antarnegara.
“Kargo semacam itu pasti memicu ketertarikan karena adanya ekspektasi agar Tiongkok melakukan sesuatu untuk membantu Iran,” kata Andrea Ghiselli, pakar hubungan Tiongkok dengan Timur Tengah dan Afrika Utara, seperti dikutip The Telegraph.
Hubungan Iran–Tiongkok
Iran dan Tiongkok dikenal sebagai partner strategis yang dipersatukan keinginan untuk mengikis tatanan dunia versi Amerika Serikat. Iran juga salah satu penyuplai utama energi untuk Tiongkok.
Di sisi lain, produk militer Tiongkok juga tengah naik daun menyusul sukses jet tempur J-35 produk mereka yang dipakai Pakistan menjatuhkan jet tempur Rafale buatan Prancis yang digunakan India. Keberhasilan yang dicapai saat kedua negara bertetangga itu berseteru beberapa waktu lalu tersebut langsung membuat banyak warga muslim di berbagai negara Asia–Afrika meminta Tiongkok membantu Iran.
Itu terungkap dalam program yang membincangkan pertahanan di CCTV, stasiun televisi milik pemerintah Tiongkok. J-35 merupakan varian yang lebih muda dari J-10.
Sampai dengan berita ini selesai ditulis pukul 21.00 tadi malam, baik Iran maupun Tiongkok belum mengomentari kabar dugaan pengiriman senjata tersebut. Tapi, menurut Ghiselli, kalau sampai rezim yang berkuasa di Iran jatuh, itu akan memicu ketidakstabilan di Timur Tengah, dan pada akhirnya merugikan kepentingan ekonomi dan energi Tiongkok.
“Di Iran, kemungkinan juga banyak yang berharap bantuan dari Tiongkok,” katanya.(ttg)
Editor : Hanif