PONTIANAK POST – Lima tahun lalu, Pangeran Al-Waleed bin Khaled bin Talal Al-Saud, si “Sleeping Prince” dari Arab Saudi, sempat memberikan harapan saat jari-jarinya bergerak ketika seorang penjenguk perempuan memanggil namanya. Bahkan, pangeran yang telah koma sejak 2005 itu sempat mengangkat seluruh tangannya, meski hanya sebentar.
Tapi, sesudahnya, seperti juga sebelumnya, harapan itu bak butiran debu di gurun pasir yang tersapu badai. Cicit Raja Saud bin Abdulaziz Al-Saud itu tetap dalam kondisi koma di King Abdulaziz Medical City di Riyadh.
Sampai kemudian, pada Sabtu (19/7), sang ayah Pangeran Khaled bin Talal Al-Saud mengumumkan kabar duka itu. “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada-Nya, dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Dengan hati berpasrah sepenuhnya kepada kehendak Allah, dan dengan duka serta kesedihan mendalam, kami berduka cita atas meninggalnya putra terkasih kami hari ini, Pangeran Al-Waleed bin Khaled bin Talal bin Abdulaziz Al-Saud, semoga Allah merahmatinya,” tulis Pangeran Khaled dalam unggahan di X, seperti dikutip dari Daily Mail.
Kecelakaan Tragis
Al-Waleed yang dilahirkan di Riyadh pada April 1990 dulunya seorang pemuda idaman. Bangsawan muda, tampan, cerdas, dan ditempa di sebuah sekolah militer di Inggris. Kecelakaan mobil tragis pada 2005, dalam usianya yang baru 15 tahun, merenggut semuanya itu.
Dia tak sadarkan diri sejak saat itu. Tim medis yang merawatnya saat itu menyatakan, kesempatan untuk bangun kembali dan menjalani hidup seperti sebelumnya hampir mustahil. Cedera otak parah dan pendarahan internal membuat bertahan hidup 20 jam saja termasuk ajaib.
Namun, Khaled bersiteguh. Dia tetap merawat harapan bahwa sang anak suatu hari akan bangun dari koma dan pulih, dan tak pernah mau mendengar usulan mencabut alat-alat medis penyokong kehidupan putra sulungnya tersebut.
Momen Kebersamaan
Khaled pebisnis properti. Salah seorang cucu Raja Saud bin Abdulaziz Al-Saud ini menjabat sebagai wakil ketua eksekutif sekaligus salah satu pendiri Arada, sebuah perusahaan pengembang properti yang berbasis di Uni Emirat Arab.
Keteguhan bangsawan Arab Saudi itu bahwa sang anak suatu hari akan bangun dari tidur panjangnya dia buktikan dengan rutin mengunggah foto bersama sang anak yang terbaring dalam berbagai kesempatan. Tapi, harapan Khaled tak sepenuhnya terpenuhi.
Al-Waleed tak pernah bangun dari koma. Tapi, setidaknya, dia jauh melampaui dugaan tim medis yang merawatnya: tak cuma bertahan lebih dari 20 jam setelah kecelakaan, dia baru benar-benar tidur untuk selamanya 20 tahun kemudian. (lyn/ttg)
Editor : Hanif