PONTIANAK POST – Gelombang tsunami setinggi 30 sentimeter (cm) dilaporkan menghantam Pelabuhan Hanasaki, Prefektur Hokkaido, Jepang utara, pada Rabu pagi ini.
Gelombang ini merupakan dampak langsung dari gempa bumi berkekuatan 8,7 magnitudo yang mengguncang dekat Semenanjung Kamchatka, Rusia, beberapa jam sebelumnya.
Badan Meteorologi Jepang (JMA) segera mengeluarkan peringatan keras, meminta seluruh masyarakat di area peringatan tsunami, mulai dari Hokkaido hingga Wakayama, untuk segera mengungsi ke lokasi yang lebih tinggi.
JMA menegaskan bahwa meskipun gelombang pertama tampak kecil, kekuatan tsunami jauh melampaui ombak biasa dan potensi gelombang susulan bisa mencapai ketinggian 3 meter.
"JMA meminta masyarakat di area peringatan tsunami... untuk segera mengungsi ke tempat lebih tinggi. Warga juga diimbau menjauh dari pantai dan sungai," demikian pernyataan resmi JMA yang dilansir NHK World Japan.
JMA secara khusus mengingatkan bahwa gelombang tsunami dapat terjadi berulang kali, dan seringkali gelombang kedua justru lebih tinggi dari yang pertama.
Puncak gelombang diperkirakan tiba antara pukul 10.00 hingga 14.00 waktu setempat, memicu kekhawatiran akan dampak yang lebih parah.
Selain Hokkaido, tsunami setinggi 20-40 sentimeter juga telah terpantau di beberapa lokasi di wilayah Tohoku dan Kanto.
NHK World melaporkan, di Hokkaido bagian timur, gelombang dengan ketinggian serupa teramati di pelabuhan Tokachi, kota Erimo, Hamanaka, dan pelabuhan Kushiro.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan mengenai kerusakan serius akibat gelombang pertama.
Peristiwa ini kembali mengingatkan Jepang pada sejarah panjang bencana gempa bumi dan tsunami, terutama di wilayah Pasifik.
Semenanjung Kamchatka sendiri pernah menjadi pusat gempa dahsyat bermagnitudo 9,0 pada November 1952.
Gempa kala itu memicu tsunami lebih dari 10 meter di Kamchatka dan gelombang satu meter yang mencapai pantai Pasifik Jepang, termasuk kota Kuji di Prefektur Iwate dan kota Ishinomaki di Prefektur Miyagi.
Beberapa wilayah Jepang timur laut bahkan diterjang gelombang lebih dari 3 meter dalam peristiwa 1952, mengakibatkan banjir parah di rumah-rumah pesisir.(*)
Editor : Budi Miank