PONTIANAK POST – India kini dikenal bukan hanya sebagai pusat teknologi, tetapi juga episentrum kejahatan siber dunia. Salah satu contohnya adalah Jamtara, distrik kecil di India timur yang berubah dari daerah miskin menjadi ladang emas bagi penipu digital.
Dengan bermodal ponsel dan internet, para pelaku menipu korban dari berbagai negara seperti Amerika Serikat dan Inggris. Dilansir dari The Guardian, fenomena ini bermula dari Sitaram Mandal, mantan pegawai toko isi ulang di Mumbai, yang mengajarkan cara menipu lewat telepon ke warga kampungnya.
Salah satu pelaku, sebut saja Jitu, mengaku telah menjalani hidup sebagai penipu ulung sejak remaja. Dia belajar dari para senior trik berpura-pura menjadi pegawai bank yang meminta data pribadi korban dengan alasan verifikasi.
“Untuk menyelesaikan proses verifikasi identitas perbankan atau KYC, Anda harus membaca kode enam digit yang dikirimkan ke nomor ponsel Anda,” katanya. Kode itu adalah OTP. Sekali saja korban membacakan kode itu maka dana bisa berpindah tangan.
Meski polisi rutin melakukan penggerebekan sejak 2015, hukuman ringan membuat praktik ini terus berulang. Pemerintah India pun membentuk satuan khusus siber, bekerja sama dengan operator telekomunikasi, dan menggelar kampanye literasi digital. (lyn/gas)
Editor : Hanif