Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kapal Induk AS Tiba di Timur Tengah, Iran Siap Hadapi Provokasi Perang

Hanif PP • Rabu, 28 Januari 2026 | 10:09 WIB

 

Kapal induk Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln.
Kapal induk Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln.

PONTIANAK POST - Kedatangan kapal induk Amerika Serikat USS Abraham Lincoln ke Timur Tengah memicu eskalasi baru ketegangan Washington–Teheran. Iran merespons dengan ancaman terbuka. Negeri para mullah ini menegaskan kesiapan militernya menghadapi setiap bentuk agresi yang dianggap sebagai provokasi perang.

 

Billboard raksasa yang berdiri tegak di Lapangan Enghelab atau Revolusi, Teheran, itu merupakan perwakilan suara Iran terhadap provokasi Amerika Serikat (AS). Isinya menggambarkan kapal pengangkut pesawat dengan para penerbangnya tewas berlumuran darah. Darah tersebut jatuh ke laut dan membentuk bendera Negeri Paman Sam.

Kapal pengangkut pesawat itu jelas merujuk kepada USS Abraham Lincoln, kapal induk AS yang kemarin tiba di Timur Tengah beserta pesawat tempur pendukung. Kedatangan itu menandai pergerakan armada militer negeri yang dipimpin Donald Trump menuju Iran.

Awal bulan ini, Trump menyerukan kepada para demonstran anti-pemerintah Iran untuk mengambil alih lembaga-lembaga negara. Dia juga menyebutkan, bantuan sedang dalam perjalanan.

Ketegangan antarkedua negara yang tahun lalu berhadapan dalam perang 12 hari yang juga melibatkan Israel itu pun makin meningkat. Dikutip dari Al Jazeera, para petinggi militer Iran sama sekali tak keder. “Jika kamu menabur angin, kamu akan menuai badai,” bunyi tulisan di billboard di Lapangan Revolusi yang berdiri sejak Minggu (25/1) lalu yang jelas ditujukan kepada AS.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyatakan, situasi tidak aman akan memengaruhi semua orang. “Negara-negara Eropa harus berhati-hati agar tidak jatuh ke dalam perangkap godaan jahat dari non-Eropa,” katanya.

Sebelumnya, sejumlah negara Eropa mempertimbangkan untuk memasukkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), pasukan elite Iran, ke dalam daftar organisasi teroris. Langkah itu dilakukan atas desakan AS.

Baghaei juga membantah klaim adanya komunikasi diplomatik antara utusan khusus Amerika Serikat Steve Witkoff dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Menurut Baghaei, tuntutan AS kini mencakup kembalinya inspektur PBB, penghapusan uranium yang diperkaya tinggi, serta pembatasan program rudal Iran. “Angkatan bersenjata Iran terus memantau pergerakan militer asing dan memperingatkan akan memberikan respons keras terhadap setiap agresi,” ucapnya.

Sekutu Iran pun memberikan dukungan. Kepala Kataib Hisbullah—kelompok pro Iran yang berpusat di Lebanon—Abu Hussein al-Hamidawi menyebutkan, kekuatan kegelapan sedang berkumpul untuk menaklukkan dan menghancurkan Iran. “Kami menegaskan kepada musuh bahwa perang melawan Republik (Islam) tidak akan semudah berjalan-jalan di taman,” katanya.

Di sisi lain, dalam percakapan telepon dengan Perdana Menteri Irak Mohammed Shia al-Sudani pada Minggu (25/1), Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mendesak Baghdad untuk menjaga jarak dari Iran. “Irak dapat sepenuhnya mewujudkan potensinya sebagai kekuatan untuk stabilitas, kemakmuran, dan keamanan di Timur Tengah,” katanya.

Kondisi Aman

Terpisah, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) memastikan para warga negara Indonesia (WNI) di Iran dalam kondisi aman. Kemenlu pun terus berkoordinasi dengan KBRI Teheran terkait upaya pelindungan WNI di sana.

“Tadi malam (6/1) kami kontak terakhir dengan Dubes Roy Rolliansyah Soemirat. Semua WNI dikontak aktif oleh KBRI Teheran dan dalam kondisi relatif aman,” ujar Juru Bicara Kemenlu Yvonne Mewengkang saat ditemui di kompleks DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, kemarin (27/1).

Disinggung soal rencana evakuasi, Yvonne mengaku, hingga kini belum ada pembicaraan terkait hal tersebut. Kendati demikian, KBRI tetap menyiapkan rencana kontingensi dalam menyikapi eskalasi di Iran. Saat ini, terdapat sekitar 386 WNI di Iran. Sebagian besar berada di Kota Qom dan Isfahan. Mereka merupakan pelajar yang tengah berkuliah di beberapa kampus di sana. (lyn/mia/ttg)

Editor : Hanif
#evakuasi #perang #USS Abraham Lincoln #wni #Timur Tengah #iran #kapal induk