Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

AS Siapkan Opsi Invasi Darat ke Iran, Risiko Konflik Besar dan Perang Berkepanjangan Meningkat

Hanif PP • Senin, 30 Maret 2026 | 10:22 WIB

 

Donald Trump.
Donald Trump.

PONTIANAK POST — Departemen Pertahanan Amerika Serikat mulai menyusun skenario serangan darat terbatas ke Iran di tengah eskalasi konflik yang telah berlangsung hampir satu bulan, memicu kekhawatiran akan fase perang yang lebih berbahaya dan sulit dikendalikan.

Laporan The Washington Post, Sabtu (29/3), menyebutkan rencana itu tengah disiapkan sebagai opsi bagi Presiden Donald Trump, meski hingga kini belum ada keputusan final. Pejabat Gedung Putih menegaskan, penyusunan rencana tersebut merupakan bagian dari kesiapan militer, bukan sinyal bahwa operasi darat pasti dilakukan.

“Tugas Pentagon adalah memastikan Panglima Tertinggi memiliki pilihan terbaik,” kata juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt. “Itu tidak berarti Presiden telah mengambil keputusan.”

Skenario yang dibahas tidak mengarah pada invasi besar-besaran, melainkan operasi terbatas yang melibatkan pasukan khusus dan infanteri. Target potensial mencakup Pulau Kharg—pusat ekspor minyak Iran—serta operasi penyergapan di pesisir Selat Hormuz guna mengamankan jalur pelayaran strategis.

Meski skalanya terbatas, para pejabat memperingatkan risiko operasi semacam itu jauh lebih tinggi dibanding serangan udara yang telah berlangsung. Pasukan AS akan menghadapi ancaman langsung berupa drone, rudal, tembakan darat, hingga peledak rakitan. Durasi operasi pun belum pasti, dengan estimasi berkisar dari beberapa pekan hingga berbulan-bulan.

Pernyataan ini kontras dengan sikap Trump sebelumnya yang menyatakan tidak akan mengerahkan pasukan darat. Menteri Luar Negeri Marco Rubio juga menegaskan bahwa tujuan militer dapat dicapai tanpa operasi darat dan perang tidak akan berlangsung lama.

Namun di lapangan, eskalasi terus meningkat sejak serangan gabungan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut menewaskan lebih dari 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei. Iran membalas dengan serangan drone dan rudal ke Israel serta wilayah di Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS, memicu korban jiwa, kerusakan infrastruktur, dan gangguan pada pasar global serta penerbangan.

Sejak konflik pecah, sedikitnya 13 personel militer AS dilaporkan tewas dan lebih dari 300 lainnya terluka dalam berbagai serangan di kawasan Teluk. Kondisi ini mempertegas risiko tinggi jika operasi darat benar-benar dijalankan.

Satu Juta Tentara Iran Bersiap

Di sisi lain, Iran menyatakan kesiapan penuh menghadapi kemungkinan invasi. Mengutip media lokal, Teheran menyiapkan hingga satu juta personel, termasuk gelombang relawan yang bergabung dengan milisi Basij, Garda Revolusi, dan angkatan darat.

Seorang sumber militer Iran bahkan mengancam akan menciptakan “neraka bersejarah” bagi pasukan lawan jika serangan darat terjadi. Ancaman tersebut diperkuat oleh keunggulan geografis Iran yang didominasi pegunungan, lembah, dan dataran tinggi, yang dinilai menyulitkan operasi militer skala besar.

Pakar militer Michael Eisenstadt menyoroti kerentanan pasukan darat dalam kondisi tersebut. “Saya tidak ingin berada di area sempit dengan kemampuan Iran menghujani drone,” ujarnya, seraya menekankan pentingnya mobilitas sebagai kunci perlindungan pasukan.

Analisis serupa disampaikan Murat Aslan, akademisi hubungan internasional di Turki, yang menilai ketidakjelasan tujuan strategis AS dan Israel sejak awal operasi berpotensi melemahkan efektivitas militer di lapangan.

Ketegangan juga meluas ke kawasan Teluk. Iran mengancam akan memperluas konflik, termasuk kemungkinan menyerang wilayah pesisir negara-negara sekutu AS seperti Bahrain dan Uni Emirat Arab. Juru bicara militer Iran bahkan menyatakan fasilitas sipil seperti hotel yang ditempati personel AS dapat dianggap sebagai target militer.

Di tengah tekanan militer, Trump beberapa kali menunda ultimatum terhadap Iran terkait pembukaan jalur aman tanker di Selat Hormuz. Tenggat terbaru ditetapkan hingga 6 April, dengan alasan adanya sinyal diplomasi, meski klaim tersebut dibantah Teheran.

Di dalam negeri AS, rencana operasi darat juga menuai penolakan. Sebuah jajak pendapat menunjukkan 62 persen publik menentang pengerahan pasukan darat ke Iran, sementara hanya 12 persen yang mendukung. Dengan meningkatnya kesiapan militer di kedua pihak dan belum adanya kejelasan keputusan politik di Washington, skenario serangan darat kini menjadi titik krusial yang berpotensi menentukan arah konflik. (lyn/ttg)

Editor : Hanif
#Teheran #invasi darat #as #perang #risiko #iran