Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Trump Ultimatum Iran Buka Selat Hormuz, Ancam Serangan ke Infrastruktur

Hanif PP • Selasa, 7 April 2026 | 12:53 WIB
Donald Trump.
Donald Trump.

PONTIANAK POST - Pembangkit listrik dan jembatan, dua fasilitas publik itu, disebut Presiden Amerika Serikat (AS) sebagai target serangan besar-besaran. Itu jika Iran bersikeras tak mau membuka Selat Hormuz sampai dengan tenggat hari ini.

“Selasa (7/4) akan menjadi Hari Pembangkit Listrik dan Hari Jembatan, semuanya digabung menjadi satu di Iran. Tidak akan ada yang seperti itu!!! Buka Selat sialan itu, dasar bajingan gila, atau kalian akan hidup di Neraka – LIHAT SAJA!” tulis Trump di Truth Social pada Minggu (5/4), seperti dikutip dari Al Jazeera.

Sebelumnya, Trump memberikan ultimatum 10 hari, terhitung sejak 26 Maret. Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi energi global yang lumpuh sejak konflik pecah pada 28 Februari lalu karena blokade Iran.

Hanya kapal yang mendapatkan izin dari Iran yang boleh melintas. Kapal-kapal AS dan negara-negara sekutu dilarang lewat. Meski retorikanya keras, Trump menyebut, peluang negosiasi masih terbuka. Dia mengklaim, Iran tengah berunding dengan Washington dan kesepakatan bisa tercapai dalam waktu dekat.

Namun, seperti juga berbagai pernyataan Trump sebelumnya, Teheran membantahnya dengan keras. Misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut, pernyataan Trump sebagai ancaman terhadap fasilitas sipil yang dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang. “Komunitas internasional memiliki kewajiban untuk menghentikan tindakan ini,” demikian pernyataan resmi pemerintah Iran, seperti dikutip dari Tasnim News Agency.

Iran juga menegaskan, bahwa pembukaan Selat Hormuz tidak akan dilakukan tanpa kompensasi. Teheran menuntut ganti rugi atas kerusakan akibat serangan yang terjadi selama perang yang dipicu serangan AS dan Israel pada 28 Februari lalu.

Skema Baru

Wakil Kepala Komunikasi Kantor Presiden Iran Seyyed Mehdi Tabatabaei menyatakan, bahwa negaranya tengah menyiapkan skema baru terkait Selat Hormuz. Salah satunya adalah penerapan biaya transit bagi kapal yang melintas, bahkan setelah konflik berakhir.

Dia juga menilai, ancaman Trump sebagai cerminan keputusasaan. “Amerika menggunakan kata-kata kasar karena marah dan frustrasi,” ujarnya.

Di sisi militer, Iran menunjukkan sikap tidak kalah keras. Seorang pejabat keamanan senior menyatakan, negaranya telah menyiapkan kejutan besar untuk menghadapi AS dan Israel. Menurutnya, Iran menjalankan strategi perang yang terukur dan berbasis target jelas.

Pernyataan itu diperkuat oleh klaim keberhasilan Iran menggagalkan operasi militer AS yang berusaha menyelamatkan pilot jet tempur F-15E. Dalam operasi tersebut, Iran mengaku berhasil menghancurkan belasan aset militer AS, termasuk helikopter dan pesawat angkut. Namun, Trump mengklaim, si pilot berhasil dievakuasi dengan selamat.

OPEC Tambah Kuota Produksi

OPEC (Organisasi Negara-Negara Penghasil Minyak) sepakat menaikkan kuota produksi minyak sebesar 206.000 barel per hari untuk Mei 2026. Namun, kenaikan tersebut dinilai lebih bersifat simbolis di tengah terganggunya pasokan global akibat konflik di Iran. Keputusan itu diambil dalam pertemuan virtual delapan negara anggota utama OPEC+, yakni Arab Saudi, Rusia, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman, pada Minggu (5/4).

Meski demikian, OPEC+ juga mengakui, adanya kekhawatiran serius terkait serangan terhadap infrastruktur energi. Kerusakan fasilitas produksi disebut membutuhkan waktu lama untuk dipulihkan dan berpotensi mengganggu pasokan secara berkelanjutan.

Penutupan Selat Hormuz berdampak langsung pada ekspor minyak dari sejumlah produsen utama, seperti Arab Saudi, UEA, Kuwait, dan Irak. Gangguan tersebut diperkirakan memangkas pasokan global hingga 12–15 juta barel per hari atau sekitar 15 persen dari total pasokan dunia. Dengan kondisi tersebut, tambahan kuota 206.000 barel per hari dinilai belum signifikan. Jumlah itu bahkan kurang dari dua persen dari total pasokan yang hilang akibat penutupan Selat Hormuz. (lyn/ttg)

Editor : Hanif
#selat hormuz #serangan #iran #Ultimatum #trump