Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Gencatan Senjata Iran: Teheran Siap Buka Selat Hormuz

Uray Ronald • Rabu, 8 April 2026 | 07:32 WIB
Peta Selat Hormuz
Peta Selat Hormuz

 

PONTIANAK POST - Pemerintah Iran resmi menyepakati gencatan senjata bersyarat. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan pihaknya siap menghentikan ketegangan jika serangan terhadap Iran disetop total.

Sebagai langkah awal, Iran menjamin jalur lintas aman di Selat Hormuz selama dua minggu ke depan. Keputusan ini diambil melalui koordinasi ketat dengan Angkatan Bersenjata Iran.

Baca Juga: Trump Umumkan Gencatan Senjata Iran, Tunda Serangan Militer 2 Minggu

10 Poin Syarat Gencatan Senjata Iran

Menurut lembaga penyiaran negara Iran, terdapat sepuluh poin utama dalam rencana perdamaian ini. Berikut adalah tuntutan resminya:

Baca Juga: Trump Umumkan Gencatan Senjata Iran, Tunda Serangan Militer 2 Minggu

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump telah menunda rencana serangan militer besar-besaran ke Iran. Keputusan ini diumumkan tepat sebelum tenggat waktu berakhir pada Selasa (7/4) malam.

Trump menyetujui "gencatan senjata dua sisi" selama 14 hari. Langkah ini diambil guna memfinalisasi kesepakatan damai jangka panjang.

"Atas permintaan PM Pakistan Shehbaz Sharif dan Marsekal Asim Munir, saya menunda penggunaan kekuatan destruktif malam ini," ujar Trump.

Baca Juga: Demensia Donald Trump Memburuk? Psikolog Beri Peringatan Keras

Negosiasi Damai di Timur Tengah

Gencatan senjata dua arah ini menjadi titik balik penting dalam sejarah konflik kedua negara. Trump menekankan bahwa syarat utama penundaan serangan adalah pembukaan Selat Hormuz secara penuh dan aman.

Saat ini, kedua belah pihak sedang mematangkan draf kesepakatan. Jika berhasil, hal ini akan menjadi solusi bagi stabilitas energi dan ekonomi dunia.(ron)

 

Editor : Uray Ronald
#Gencatan Senjata Iran #Abbas Araghchi #selat hormuz #konflik timur tengah #donald trump