PONTIANAK POST - Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC) resmi mengklaim kemenangan besar atas Amerika Serikat. Teheran menyebut telah memaksa Washington menerima rencana perdamaian 10 poin mereka.
Pernyataan ini muncul setelah pengumuman gencatan senjata bersyarat antara kedua negara. Iran menilai AS telah menderita kekalahan bersejarah dalam konflik kali ini.
Baca Juga: Gencatan Senjata Iran: Teheran Siap Buka Selat Hormuz
Kemenangan Iran dan Poin Kesepakatan dengan AS
Dalam klaimnya, SNSC menyatakan bahwa Amerika Serikat secara prinsip telah menyetujui sejumlah tuntutan krusial. Poin-poin ini disebut sebagai bentuk "kekalahan telak" bagi pihak lawan.
Berikut adalah beberapa poin utama yang diklaim telah disetujui AS:
-
Pencabutan Sanksi: Penghapusan seluruh sanksi ekonomi primer dan sekunder terhadap Iran.
-
Pengayaan Nuklir: AS menerima hak Iran untuk melakukan pengayaan uranium.
-
Kendali Jalur Laut: Pengakuan atas kendali berkelanjutan Iran di Selat Hormuz.
-
Kompensasi: Pembayaran ganti rugi kepada Iran dan penarikan pasukan tempur AS dari kawasan.
"Musuh telah menderita kekalahan yang tak terbantahkan dan menghancurkan," tulis pernyataan resmi SNSC.
Baca Juga: Trump Umumkan Gencatan Senjata Iran, Tunda Serangan Militer 2 Minggu
Negosiasi Lanjutan di Islamabad Pakistan
Untuk mematangkan detail kesepakatan, kedua negara dijadwalkan bertemu di Islamabad, Pakistan. Negosiasi ini ditargetkan selesai dalam waktu maksimal 15 hari.
Tujuan pertemuan ini adalah mengonsolidasikan kemenangan militer Iran ke dalam kesepakatan politik yang sah. Islamabad dipilih sebagai lokasi netral untuk memfinalisasi rincian teknis gencatan senjata.
Baca Juga: Demensia Donald Trump Memburuk? Psikolog Beri Peringatan Keras
Sebelumnya, Presiden Donald Trump memutuskan untuk menunda serangan militer besar-besaran ke Iran. Keputusan ini diambil hanya beberapa menit sebelum tenggat waktu berakhir pada Selasa (7/4).
Trump menyetujui gencatan senjata dua arah selama 14 hari. Hal ini dilakukan atas saran dari pimpinan Pakistan guna menghindari penggunaan "kekuatan destruktif" di Timur Tengah.
"Atas permintaan PM Shehbaz Sharif, saya menunda penggunaan kekuatan militer malam ini," ujar Trump lewat pernyataan resminya.(ron)
Editor : Uray Ronald