Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Selat Hormuz Jadi Penentu Gencatan Senjata Iran dan AS, Dua Kapal RI Masih Tertahan

Hanif • Kamis, 9 April 2026 | 09:35 WIB
PATROLI HORMUZ: Ilustrasi tentara Iran berpatroli di kawasan Selat Hormuz. Amerika Serikat dan Iran sepakat melakukan gencatan senjata sementara selama dua pekan dengan syarat jalur pelayaran strategis tersebut kembali dibuka bagi lalu lintas kapal internasional. (FOXBUSINESS)
PATROLI HORMUZ: Ilustrasi tentara Iran berpatroli di kawasan Selat Hormuz. Amerika Serikat dan Iran sepakat melakukan gencatan senjata sementara selama dua pekan dengan syarat jalur pelayaran strategis tersebut kembali dibuka bagi lalu lintas kapal internasional. (FOXBUSINESS)

PONTIANAK POST – Perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel mencapai babak baru. Kedua pihak dijadwalkan menggelar perundingan di Islamabad, Pakistan, besok (10/4). Agenda utamanya membahas gencatan senjata selama dua pekan. Selain itu, Selat Hormuz—jalur vital distribusi minyak dunia—direncanakan kembali dibuka.

Dilansir AFP, Iran mengajukan 10 poin proposal perdamaian pada Selasa (8/4) waktu setempat. Presiden AS Donald Trump disebut telah menyetujui poin-poin tersebut dan mendukung gencatan senjata sementara selama dua minggu.

Kedua negara kini sama-sama mengklaim kemenangan. ’’Kesepakatan ini adalah kemenangan total bagi Amerika,” ujar Trump.

Pernyataan itu kontras dengan sikapnya beberapa jam sebelumnya. Lewat Truth Social, Trump sempat mengancam akan mengebom infrastruktur vital Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan.

Baca Juga: Keracunan MBG Terulang Lagi: Ratusan Pelajar Bogor Terdampak, Juga Terjadi di Nganjuk

Mengutip The Guardian, pesawat pembom B-52 Stratofortress bahkan dilaporkan sempat menuju kawasan sebelum pengumuman gencatan senjata.

Dari Teheran, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran juga mengklaim kemenangan. Mereka menyebut pihak lawan mengalami “kekalahan yang tidak terbantahkan”.

Meski demikian, Iran belum sepenuhnya percaya pada komitmen Washington. Karena itu, gencatan senjata dibatasi dua minggu dan masih terbuka untuk dinegosiasikan.

’’Jika serangan terhadap Iran dihentikan, angkatan bersenjata kami juga akan menghentikan operasi,” ujar Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi seperti dikutip Al Jazeera.

Dalam proposalnya, Iran menuntut pencabutan seluruh sanksi—baik primer maupun sekunder—serta kontrol berkelanjutan atas Selat Hormuz. Teheran juga meminta penarikan pasukan AS dari Timur Tengah, penghentian serangan terhadap Iran dan sekutunya, serta pembebasan aset yang dibekukan.

Baca Juga: Biaya Penerbangan Haji 2026 Berpotensi Naik 51,48 Persen, Pemerintah Pastikan Jemaah Tidak Terbebani

Iran turut mendorong kesepakatan disahkan melalui resolusi Dewan Keamanan PBB agar bersifat mengikat. Dalam versi berbahasa Persia, terdapat tambahan poin mengenai “penerimaan pengayaan uranium”, meski tidak muncul dalam versi bahasa Inggris.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif yang memediasi perundingan menyatakan optimistis. “Pembicaraan ini ditujukan untuk mencapai kesepakatan yang konklusif,” ujarnya.

Selat Hormuz Jadi Kunci

Trump menegaskan, keberhasilan gencatan senjata juga bergantung pada kesediaan Iran membuka Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan pintu keluar sekitar 20 persen pasokan minyak global.

Araghchi menyatakan, jalur aman di selat itu akan dikoordinasikan dengan militer Iran. ’’Pelayaran aman dimungkinkan dengan koordinasi dan mempertimbangkan keterbatasan teknis,” ujarnya, seperti dikutip Tasnim News Agency.

Pembukaan Selat Hormuz menjadi kabar positif bagi banyak negara. Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut, sekitar 15 negara telah dimobilisasi untuk mengamankan jalur tersebut. ’’Misi ini bersifat defensif, untuk memastikan lalu lintas dapat kembali berjalan,” katanya. 

Baca Juga: Teror Pembakaran 37 Rumah di Air Upas, Pemkab dan Polisi Gelar Rapat Darurat Penanganan

Belum Bisa Lewat

Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI menyambut positif kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat–Israel. Kesepakatan tersebut dinilai membuka peluang pemulihan akses pelayaran di Selat Hormuz.

Juru Bicara Kemenlu RI Vahd Nabyl Achmad Mulachela berharap gencatan senjata itu dapat berlangsung permanen. “Dan tentunya kita harapkan bisa berkembang lebih permanen serta berdampak pada kepentingan kita, khususnya kebebasan navigasi,” ujarnya dalam press briefing di Jakarta, Rabu (8/4).

Menurut dia, terbukanya kembali Selat Hormuz akan berdampak positif bagi perekonomian Indonesia, kawasan, maupun global.

Terkait dua kapal tanker Pertamina yang masih tertahan di kawasan tersebut, Kemenlu terus melakukan upaya agar keduanya segera dapat melintas. Koordinasi dilakukan melalui berbagai jalur, baik antara Kemenlu dan KBRI di Teheran dengan pemerintah Iran maupun melalui Kedutaan Besar Iran di Jakarta.

Nabyl menjelaskan, masih ada sejumlah aspek teknis yang dibahas untuk memastikan keselamatan kru. Di antaranya terkait asuransi serta kesiapan personel di lapangan.

Baca Juga: Luis Enrique: Harusnya PSG Bisa Menang Lebih Dua Gol

Mengenai isu adanya permintaan upeti untuk melintasi Selat Hormuz, dia menegaskan hal tersebut tidak muncul dalam perundingan. “Ini murni persoalan teknis yang harus dibahas dengan melibatkan Pertamina dan pihak terkait di lapangan,” katanya.

Dia menambahkan, setiap negara juga melakukan langkah-langkah untuk menjamin keselamatan kapal nasionalnya. Karena itu, menurut dia, tidak perlu membandingkan Indonesia dengan negara lain di Asia yang kapalnya telah diizinkan melintas oleh Iran. (mia/lyn/oni)

Editor : Hanif
#Iran-AS-Israel #Kapal RI #selat hormuz #donald trump #gencatan senjata