PONTIANAK POST – Militer Israel meluncurkan serangan udara besar-besaran di pusat kota Beirut, Rabu (8/4). Serangan mendadak ini menargetkan kawasan komersial dan pemukiman padat penduduk tanpa peringatan awal.
Tragedi ini terjadi hanya beberapa jam setelah pengumuman gencatan senjata perang AS-Israel terhadap Iran. Pertahanan Sipil Lebanon melaporkan setidaknya 254 orang tewas dan 1.165 lainnya luka-luka.
Baca Juga: Trump Umumkan Gencatan Senjata Iran, Tunda Serangan Militer 2 Minggu
Menteri Kesehatan Lebanon, Rakan Nassereddine, menyebut situasi ini sebagai eskalasi yang sangat berbahaya.
“Kami mendesak organisasi internasional untuk membantu sektor kesehatan Lebanon," ujar Nassereddine kepada Al Jazeera.
Militer Israel mengeklaim ini adalah serangan terkoordinasi terbesar sejak operasi dimulai 2 Maret lalu. Serangan tersebut menghujam wilayah Beirut, Lembah Bekaa, hingga Lebanon selatan.
Baca Juga: Harga Minyak Anjlok 15% Usai Trump Sepakati Gencatan Senjata
Israel menyebut serangan menyasar pusat komando dan infrastruktur Hizbullah. Lebih dari 100 serangan udara diluncurkan dalam waktu singkat. Israel mengaku sudah berupaya meminimalkan dampak pada warga sipil meski target berada di tengah kota.
"Militer Israel melakukan serangan mendadak terhadap ratusan teroris Hizbullah di pusat-pusat komando di seluruh Lebanon," kata Katz dalam sebuah video.
Ia menyatakan serangan ini adalah pukulan terberat bagi Hizbullah sejak "Operasi Pager" tahun 2024 silam.
Baca Juga: Gencatan Senjata Iran: Teheran Siap Buka Selat Hormuz
Kekacauan dan Dampak Serangan Israel di Beirut
Kepanikan luar biasa melanda warga saat asap hitam mulai membumbung tinggi di langit Beirut. Banyak warga berlarian ke jalanan karena lokasi ledakan berada di titik-titik yang tidak terduga.
Laporan lapangan menggambarkan situasi yang mencekam. Anak-anak menangis dan warga berteriak mencari pertolongan di tengah reruntuhan. Banyak korban luka berlarian menuju rumah sakit terdekat. Ratusan mobil ditinggalkan pemiliknya di tengah kemacetan karena rasa takut.
Palang Merah Lebanon telah mengerahkan sedikitnya 100 unit ambulans untuk mengevakuasi korban.
Hizbullah mengutuk keras tindakan tersebut dan menyatakan serangan sengaja menyasar kawasan sipil. Mereka menyebut wilayah Sidon dan Lembah Bekaa juga menjadi sasaran bom.
Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri, memberikan pernyataan tegas atas insiden ini. Ia menyebut aksi militer Israel sebagai sebuah kejahatan perang yang nyata.(ron)
Editor : Uray Ronald
Sumber : Aljazeera