PONTIANAK POST – Hanya beberapa jam setelah gencatan senjata AS-Iran diumumkan, militer Israel melancarkan pemboman dahsyat di seluruh Lebanon pada Rabu. Serangan udara ini menargetkan wilayah Beirut, Lembah Bekaa, Sidon, hingga Lebanon selatan.
Pertahanan Sipil Lebanon melaporkan sedikitnya 254 orang tewas dan 1.165 warga luka-luka. Skala serangan ini disebut sebagai operasi koordinasi terbesar Israel sejak awal Maret lalu.
Baca Juga: Serangan Israel di Lebanon Tewaskan 254 Orang Usai Gencatan Senjata
Pihak Israel mengeklaim serangan tersebut menyasar lebih dari 100 pusat komando Hizbullah. Namun, tingginya korban sipil memicu seruan darurat medis di berbagai rumah sakit besar di Beirut.
Kontroversi Gencatan Senjata dan Klaim Donald Trump
Terdapat perbedaan pernyataan yang mencolok terkait cakupan perdamaian di kawasan ini. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan dengan Iran.
Posisi ini didukung oleh Presiden AS Donald Trump. Ia menyebut konflik di Lebanon sebagai "bentrokan terpisah" yang tidak menjadi bagian dari perjanjian utama.
Baca Juga: Gencatan Senjata AS-Iran: Trump Klaim Lebanon Tak Masuk Kesepakatan
Sebaliknya, Pakistan selaku mediator menyatakan bahwa Lebanon seharusnya masuk dalam gencatan senjata tersebut. Ketidakjelasan ini memicu ketegangan diplomatik yang makin memanas.
Krisis Kemanusiaan yang Memburuk
Dampak serangan ini membuat sektor kesehatan Lebanon berada di ambang kolaps. Berikut poin-poin kritis di lapangan:
1. Dokter dari semua spesialisasi diminta segera bertugas ke rumah sakit terdekat.
2. Kebutuhan mendesak akan donor semua golongan darah di pusat kota Beirut.
3. Palang Merah Internasional (ICRC) geram atas kematian massal di pemukiman padat penduduk.
Baca Juga: Trump Umumkan Gencatan Senjata Iran, Tunda Serangan Militer 2 Minggu
Negara-negara seperti Qatar, Mesir, dan Turkiye juga memperingatkan bahwa serangan ini dapat menyeret Timur Tengah ke dalam kekacauan total. Italia bahkan secara tegas meminta agar dunia mencegah munculnya "Gaza kedua" di Lebanon.
Wakil juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Farhan Haq, menyatakan bahwa PBB "mengutuk keras" serangan Israel terhadap Lebanon.
"Perserikatan Bangsa-Bangsa mengutuk keras serangan-serangan oleh Israel di seluruh Lebanon yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban sipil," ujar Haq sebagaimana dilansir Aljazeera.
"Kami terus menyerukan kepada semua pihak untuk memanfaatkan saluran diplomatik, menghentikan permusuhan, dan menggunakan gencatan senjata baru AS-Iran sebagai kesempatan untuk mencegah hilangnya nyawa lebih lanjut," tambahnya.
Kepala Hak Asasi Manusia PBB Volker Turk menyebut serangan tersebut "mengerikan".
"Skala pembunuhan dan kehancuran di Lebanon hari ini sungguh sangat mengerikan," katanya dalam sebuah pernyataan.
"Pertumpahan darah seperti ini, yang terjadi hanya dalam hitungan jam setelah menyepakati gencatan senjata dengan Iran, sungguh sulit dipercaya. Hal ini memberikan tekanan besar pada perdamaian yang rapuh, yang sangat dibutuhkan oleh warga sipil."(ron)
Editor : Uray Ronald