Diplomasi Amerika Serikat-Iran Gagal di Pakistan, Dunia di Ujung Ketegangan

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Minggu, 12 April 2026 | 22:50 WIB
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, berdiri di dalam pesawat delegasi Iran dengan kursi-kursi yang ditempeli foto ratusan anak korban serangan rudal Amerika Serikat di Minab. Foto simbolik ini disampaikan menjelang negosiasi Iran dengan AS di Islamabad, Sabtu (11/4/2026).
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, berdiri di dalam pesawat delegasi Iran dengan kursi-kursi yang ditempeli foto ratusan anak korban serangan rudal Amerika Serikat di Minab. Foto simbolik ini disampaikan menjelang negosiasi Iran dengan AS di Islamabad, Sabtu (11/4/2026).

 

PONTIANAK POST - Perundingan maraton antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan setelah hampir 25 jam negosiasi intensif pada Minggu (12/4).

Kegagalan tersebut langsung memicu kekhawatiran global karena ketegangan kedua negara kembali meningkat di jalur diplomasi utama.

Wakil Presiden AS J. D. Vance menyebut Washington telah mengajukan tawaran final dan terbaik dalam perundingan itu.

Namun Iran disebut tidak menerima syarat yang diajukan Amerika Serikat meski ruang kompromi telah dijelaskan secara terbuka.

Vance menegaskan inti perundingan adalah komitmen jangka panjang Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.

Ia menilai ketidakjelasan sikap Teheran membuat kesepakatan sulit tercapai dalam waktu dekat.

Iran sendiri menyebut ketidakpercayaan akibat konflik sebelumnya menjadi penghambat utama pembicaraan.

Kedua pihak mengakui ada beberapa kesepahaman, namun gagal pada poin-poin krusial.

Kebuntuan ini diperkirakan akan memperpanjang ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. **

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
AS Iran perundingan gagal Islamabad diplomasi nuklir ketegangan global