PONTIANAK POST – Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon selama 10 hari.
Gencatan senjata ini mulai berlaku Jumat (17/4) pukul 02.00 WIB.
Kesepakatan ini tercapai usai perundingan intensif di Washington.
Trump menyatakan telah berkomunikasi langsung dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun dan PM Israel Benjamin Netanyahu.
"Ini langkah penting menuju perdamaian sejati bagi kedua negara," ujar Trump dalam pernyataan resminya sebagaimana dilansir Antara.
Ia optimistis kesepakatan ini akan menjadi akhir perang ke-10 yang berhasil ia mediasi.
Baca Juga: Perundingan Israel-Lebanon di AS: Titik Terang atau Sekadar Formalitas?
Tim Khusus AS Kawal Proses Perdamaian Permanen
Trump menunjuk Wakil Presiden JD Vance dan Menlu Marco Rubio untuk mengawal transisi ini.
Mereka akan bekerja sama dengan Ketua Kepala Staf Gabungan Dan Caine.
Tim ini bertugas menjembatani kedua belah pihak agar gencatan senjata sementara ini berlanjut menjadi perdamaian permanen.
Perundingan di Washington sendiri dimulai sejak Selasa (14/4) lalu.
Meski begitu, kelompok Hizbullah dilaporkan tidak hadir dalam pertemuan tersebut.
Mereka menyatakan tetap menolak langkah diplomasi yang dimediasi oleh Amerika Serikat.
Baca Juga: Israel Setujui Perundingan Damai dengan Lebanon, Tapi Abaikan Hizbullah
Lebanon Sambut Baik Penghentian Konflik
PM Lebanon Nawaf Salam menyambut hangat pengumuman ini melalui media sosial X.
Ia menyebut gencatan senjata sebagai tuntutan utama rakyat Lebanon sejak awal perang.
“Selamat kepada rakyat Lebanon atas pencapaian ini,” tulis Salam.
Ia juga menyampaikan rasa duka mendalam bagi korban tewas dan simpati bagi para pengungsi.
Salam turut mengapresiasi dukungan internasional, mulai dari AS, Prancis, hingga Uni Eropa. Ia secara khusus berterima kasih kepada Arab Saudi, Mesir, Qatar, dan Yordania atas peran mereka.(*)
Editor : Uray Ronald
Sumber : Antara