Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Gencatan Senjata Bakal Tak Lanjut: Vance Bersedia Datang, Tapi Iran Menarik Diri dari Perundingan

Aristono Edi Kiswantoro • Selasa, 21 April 2026 | 22:33 WIB
Ilustrasi - Bendera Amerika Serikat dan Iran..(ANTARA)
Ilustrasi - Bendera Amerika Serikat dan Iran..(ANTARA)

 

PONTIANAK POST - Harapan meredanya konflik kembali menggantung setelah Iran memilih menahan diri dari meja perundingan, di tengah tekanan dan manuver keras Amerika Serikat.

Rencana perundingan putaran kedua antara Iran dan AS di Islamabad, Pakistan, terancam tertunda karena Teheran menilai Washington tidak menunjukkan itikad baik.

Delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden J.D. Vance dijadwalkan kembali ke Pakistan pada 21 April, didampingi utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner.

Ketiganya sebelumnya terlibat dalam perundingan maraton selama 21 jam pada 11 April di Islamabad, namun berakhir tanpa kesepakatan.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengecam tindakan AS yang dinilai melanggar hukum internasional.

Ia menyoroti serangan terhadap kapal kargo Iran, Touska, serta penahanan awaknya yang memperkeruh situasi.

Dalam komunikasi dengan Menteri Luar Negeri Pakistan Muhammad Ishaq Dar, Araghchi menegaskan pelanggaran gencatan senjata dan ancaman terhadap kapal dagang menjadi penghambat diplomasi.

Gencatan senjata dua pekan antara kedua negara berakhir hari ini, menambah ketidakpastian arah konflik.

Sejumlah isu krusial masih menjadi batu sandungan, terutama terkait cadangan uranium Iran yang sensitif.

Presiden AS Donald Trump mengklaim Iran bersedia mengirim uranium yang diperkaya tinggi ke AS, namun langsung dibantah Teheran.

Iran diperkirakan memiliki sekitar 400 kilogram uranium dengan tingkat pengayaan mencapai 60 persen.

Dalam negosiasi, muncul tawaran pencairan aset Iran sebagai imbalan penyerahan cadangan tersebut.

Namun Teheran menuntut pelonggaran sanksi besar-besaran dan pencairan aset lebih dari 20 miliar dolar AS.

Perbedaan tajam juga terjadi soal pembatasan program pengayaan, di mana AS mengusulkan 20 tahun, sementara Iran hanya bersedia lima tahun.

Ketegangan turut merembet ke jalur strategis Selat Hormuz, yang kembali diperketat Iran setelah pernyataan keras Trump soal blokade pelabuhan.

Dua kapal dilaporkan diserang saat melintasi selat tersebut, memperbesar kekhawatiran eskalasi konflik.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menegaskan negaranya menolak negosiasi di bawah ancaman.

Di sisi lain, Trump tetap optimistis Iran akan kembali ke meja perundingan, sembari memperingatkan konsekuensi serius jika pembicaraan gagal.

Ketegangan ini bukan sekadar tarik ulur diplomasi, tetapi juga menyangkut stabilitas kawasan dan nasib jutaan orang yang terancam dampak konflik berkepanjangan. (jpc)

Infografis – Fakta Penting

Poin Keterangan
Lokasi Perundingan Islamabad, Pakistan
Putaran Pertama 11 April (21 jam, tanpa hasil)
Status Terbaru Terancam tertunda
Isu Utama Uranium, sanksi, pengayaan
Cadangan Uranium Iran ± 400 kg (60%)
Tuntutan Iran Pencairan aset > USD 20 miliar

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#AS Iran #Perundingan Islamabad #uranium Iran #konflik timur tengah #donald trump