PONTIANAK POST - Pentagon menyatakan butuh waktu hingga enam bulan untuk membersihkan Selat Hormuz sepenuhnya dari ranjau militer Iran.
Penilaian intelijen ini disampaikan kepada Komite Angkatan Bersenjata DPR AS pada Selasa (21/4).
Namun, operasi pembersihan ini belum bisa berjalan sebelum perang antara AS-Israel melawan Iran berakhir.
Akibatnya, harga bensin dan minyak dunia berpotensi tetap tinggi hingga pemilihan umum sela di Amerika Serikat.
Penundaan ini menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekonomi global.
Selat Hormuz merupakan jalur krusial bagi distribusi energi dunia yang kini sedang terhambat.
Kendala Teknologi dalam Pembersihan Selat Hormuz
Pihak AS menduga Iran telah memasang sekitar 20 atau lebih ranjau di sekitar selat tersebut.
Beberapa ranjau menggunakan teknologi GPS canggih yang bisa dikendalikan dari jarak jauh.
Baca Juga: Selat Hormuz Memanas: AS Kirim Kapal Perusak untuk Bersihkan Ranjau Iran
Teknologi ini menyulitkan pasukan AS untuk mendeteksi posisi ranjau saat pertama kali dipasang.
Selain itu, pasukan Iran dilaporkan menggunakan kapal-kapal kecil untuk menyebar ranjau lainnya secara senyap.
Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, mengonfirmasi bahwa informasi ini disampaikan dalam rapat tertutup bagi anggota parlemen.
Meski begitu, ia mengkritik laporan yang beredar sebagai data yang kurang akurat.
"Penutupan Selat Hormuz selama enam bulan adalah hal yang mustahil. Hal itu sama sekali tidak dapat diterima oleh Menteri Pertahanan," tegas Parnell dikutip Antara.
Baca Juga: Keamanan Selat Hormuz Tidak Dijamin Jika Ekspor Minyak Iran Dibatasi
Pernyataan Donald Trump Terkait Konflik
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menegaskan belum ada tenggat waktu pasti untuk mengakhiri perang ini.
Hal tersebut ia sampaikan dalam wawancara bersama Fox News pada Rabu (22/4).
"Tidak ada kerangka waktu untuk mengakhiri perang AS-Israel dengan Iran," ujar Trump singkat. *
Editor : Uray Ronald