Trump Umumkan Perpanjangan Gencatan Senjata Israel-Lebanon 3 Minggu

Uray Ronald • Dipublikasikan Jumat, 24 April 2026 | 12:45 WIB
Jalan-jalan wilayah Dahieh yang hancur akibat serangan Israel pada 17 April 2026 di Beirut, Lebanon. (ANTARA)
Jalan-jalan wilayah Dahieh yang hancur akibat serangan Israel pada 17 April 2026 di Beirut, Lebanon. (ANTARA)

 

PONTIANAK POST – Presiden AS Donald Trump resmi mengumumkan perpanjangan gencatan senjata di Lebanon selama tiga minggu.

Keputusan ini diambil setelah perwakilan Israel dan Lebanon bertemu di Gedung Putih pada Kamis waktu setempat.

Kesepakatan ini memperpanjang jeda pertempuran yang pertama kali diberlakukan pada 16 April lalu.

Langkah ini dipandang sebagai salah satu faktor penentu dalam upaya mewujukan perdamaian yang lebih luas antara Amerika Serikat dan Iran.

Namun, situasi di lapangan tetap mencekam. Israel dan kelompok Hezbollah yang didukung Iran masih saling serang, menunjukkan betapa rapuhnya kesepakatan damai ini.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyebut keterlibatan pribadi Trump sebagai kunci keberhasilan perpanjangan gencatan senjata ini.

Rubio optimistis bahwa jeda waktu tambahan ini memberikan ruang bagi kedua negara untuk merancang perdamaian permanen.

"Presiden ingin terlibat langsung. Kehadirannya memungkinkan perpanjangan ini terjadi," ujar Rubio.

Baca Juga: Trump Umumkan Gencatan Senjata Israel-Lebanon, Berlaku Mulai Jumat Dini Hari

Tantangan di Lapangan dan Keraguan Diplomatik

Meskipun pembicaraan berlangsung di Gedung Putih, keraguan tetap muncul dari pihak diplomatik.

Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, menyatakan ketidakpercayaannya terhadap komitmen Lebanon.

"Gencatan senjata ini tidak menjamin 100 persen. Pemerintah Lebanon tidak memiliki kendali penuh atas Hezbollah," kata Danon kepada CNN.

Ia menambahkan bahwa Israel akan terus membalas setiap serangan roket yang mencoba menyabotase gencatan senjata.

Baca Juga: Israel Nodai Kesepakatan Gencatan Senjata: Militer Lebanon Laporkan Serangan di Selatan

Ketegangan ini terbukti dengan serangan udara Israel di Lebanon selatan pada Rabu yang menewaskan seorang jurnalis.

Perdana Menteri Lebanon pun langsung melayangkan tuduhan kejahatan perang terhadap Israel atas insiden tersebut.

Dampak Kemanusiaan yang Masif

Sejak awal Maret, konflik ini telah membawa dampak yang masif.

Data Institute for the Study of War mencatat sekitar 1.000 serangan udara telah menghantam Lebanon dalam periode singkat tersebut.

Perintah evakuasi militer Israel di wilayah selatan Sungai Litani hingga Zahrani telah memicu pengungsian besar-besaran.

PBB melaporkan bahwa hampir seperlima penduduk Lebanon kini terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat agresi tersebut.*

Editor : Uray Ronald
Sumber : CNN english
Hezbollah Gencatan Senjata Lebanon Krisis Timur Tengah. Israel donald trump