PONTIANAK POST – Militer Amerika Serikat dilaporkan telah menguras sebagian besar stok senjata utamanya sejak meluncurkan serangan ke Iran pada 28 Februari lalu. Laporan terbaru menyebutkan biaya perang ini telah mencapai miliaran dolar AS.
Dilansir Mirror, Pentagon tercatat telah menembakkan lebih dari 1.200 rudal interseptor Patriot, di mana setiap unitnya berbiaya lebih dari $4 juta. Selain itu, 1.000 rudal darat jenis ATACMS dan Precision Strike juga telah digunakan.
Penggunaan rudal jelajah siluman jarak jauh juga menjadi sorotan. AS dilaporkan telah menggunakan sekitar 1.100 unit, jumlah yang mendekati total sisa stok yang semula disiapkan untuk potensi konflik dengan Tiongkok.
Tak hanya itu, lebih dari 1.000 rudal Tomahawk telah ditembakkan. Angka ini mencapai sepuluh kali lipat dari jumlah pembelian tahunan militer Amerika Serikat.
Biaya Perang Capai $35 Miliar
Meski Gedung Putih belum merilis angka resmi, The New York Times melaporkan estimasi biaya perang berada di kisaran $28 miliar hingga $35 miliar.
Studi dari American Enterprise Institute (AEI) memperkuat data tersebut. Bahkan, pada dua hari pertama konflik saja, anggaran sebesar $5,6 miliar dilaporkan langsung ludes terbakar.
Baca Juga: Stok Rudal AS Menipis Akibat Perang Iran, Butuh 5 Tahun untuk Pulih
Senator Jack Reed memperingatkan bahwa membangun kembali kekuatan stok senjata AS tidak akan instan. Dengan tingkat produksi saat ini, pemulihan cadangan militer bisa memakan waktu bertahun-tahun.
"Saat ini, memulihkan apa yang telah kita habiskan memerlukan waktu yang sangat lama," tegas Reed dalam pernyataannya pekan ini.
Baca Juga: Iran Pamer Rudal Balistik Qadr di Teheran Usai Perundingan Damai Gagal, Sedang Persiapkan Serangan?
Bantahan Gedung Putih
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, membantah keras laporan tersebut. Ia menegaskan bahwa militer Amerika Serikat tetap yang terkuat di dunia dengan cadangan amunisi yang lebih dari cukup.
"Amerika Serikat memiliki inventaris yang memadai untuk mempertahankan tanah air dan menjalankan operasi militer apa pun sesuai arahan Panglima Tertinggi," ujar Leavitt.
Namun, pengamat militer Mark F. Cancian menyebut beberapa amunisi serangan darat memang sudah menipis sejak sebelum perang dan kini kondisinya semakin kritis. (*)
Editor : Uray Ronald