PONTIANAK POST – Pemerintahan Trump resmi membekukan aset kripto senilai $344 juta (sekitar Rp5,5 triliun) yang diduga kuat terkait dengan Iran.
Langkah ini diambil seiring meningkatnya tekanan ekonomi AS terhadap Teheran di tengah upaya diplomasi yang mandek.
Penyitaan ini pertama kali dilaporkan oleh CNN.
Hingga kini, belum dipastikan apakah penyitaan dana besar ini akan memengaruhi posisi tawar Iran dalam negosiasi.
Sanksi Dompet Digital dan Peran Tether
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan pada Jumat (24/4) bahwa pihaknya telah menjatuhkan sanksi pada sejumlah dompet digital milik Iran.
AS berkomitmen melacak jalur keuangan yang coba dipindahkan Teheran ke luar negeri.
"Kami akan mengikuti aliran uang yang coba dipindahkan Teheran secara putus asa," ujar Bessent.
Perusahaan kripto Tether juga mengonfirmasi telah membantu pemerintah AS membekukan dana tersebut di dua alamat dompet digital.
Modus Operandi Kripto Iran untuk Hindari Sanksi
Pejabat AS menyebut adanya bukti keterkaitan material antara dana tersebut dengan rezim Iran melalui analisis blockchain.
Transaksi tersebut melibatkan bursa Iran dan perantara yang berinteraksi dengan dompet Bank Sentral Iran (CBI).
Data Kepemilikan Kripto Iran
| Kategori | Detail Informasi |
| Total Aset (2025) | $7,8 Miliar |
| Dominasi IRGC | Sekitar 50% dari total kepemilikan |
| Tujuan Penggunaan | Stabilisasi Rial & pembelian persenjataan |
| Penyedia Data | Chainalysis |
Lembaga Chainalysis mencatat kepemilikan kripto Iran tumbuh pesat pada 2025.
Garda Revolusi Islam (IRGC) mendominasi setengah dari total aset tersebut, mencerminkan pengaruh besar mereka dalam ekonomi Iran.
Efektivitas Sanksi di Mata Pakar
Daniel Tannebaum dari Atlantic Council menilai pembekuan ini cukup berarti, namun belum tentu menghentikan langkah Iran sepenuhnya.
Mengingat sanksi yang sudah bertubi-tubi selama puluhan tahun, Iran telah memiliki mekanisme adaptasi yang kuat.
"Cara untuk menekan Iran saat ini adalah menyasar aktor negara ketiga yang membantu mereka, termasuk Tiongkok," ujar Tannebaum.
Pada hari yang sama, Departemen Keuangan AS juga menjatuhkan sanksi pada kilang minyak di Tiongkok yang membeli minyak mentah Iran.*
Editor : Uray Ronald